Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di
kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap
pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat
memukul bola maupun tidak. Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat
tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah.
Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita
dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada
musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan
yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya
bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia
dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa
dilakukannya pada malam hari.
"Aku tidak akan menikah lagi,"
kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti
dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia
adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat
Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya
memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak
ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari
mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri
daripada ia memaksakan mencari penggantinya."
Sherri sangat
bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal
bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg
dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan
selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya
juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang
dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia
hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke
pertandingan seorang diri.
"Pelatih", panggilnya.
"Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?"
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat
bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke
berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah
datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke,
dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini.
"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.
"Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."
Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia
bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan
mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang
sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.
Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke
bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke
pinggir lapangan.
"Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke.
"Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh
air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan,
ia berkata
"Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam
sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat
berjalan dengan baik akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,...... Ibuku
meninggal." Luke kembali menangis.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata
"Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari
surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain.
Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali
menangis terisak-isak.
Sang pelatih sadar bahwa ia telah
membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai
pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja,
tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang
pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari
kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang
anak..... Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar
bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke.
Bahkan
seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk
kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi
selamanya............ Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu
mencintainya........
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung
ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang
terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih
banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat
berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.
Renungan :
Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah &
ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn
mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu
untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun,
melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita.
Bukannya melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji, yang membuat mereka
malu.
Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan
mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha
melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya.
Bagaimana dengan Anda?
Berapakah usia Anda saat ini ?
Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ?
Jika anda merasa cerita ini sangat berguna, Silakan LIKE dan SHARE ke
teman-teman anda untuk berbagi cerita ini agar mereka juga
mengetahuinya...
Ciptakan saling berbagi sesama teman...
Silakan SHARE cerita ini..
++++++++