Tuesday, March 19, 2013
Ada
sebuah kisah nyata sederhana yang akan SL-Books bagikan pada Anda.
Sebuah kisah mengenai wanita tua berusia 83 tahun yang masih berdagang
untuk menghidupi keluarganya.
Apa yang Anda bayangkan di usia 83 tahun Anda? Mungkin masa tua sambil
menimang cucu, masa pensiun yang tenang dan segala kebahagiaan yang Anda
idamkan.
Nyatanya Shila Ghosh, wanita tua yang tinggal di
Pali, Bengal Barat, India, setiap sore menaiki bus yang akan
mengantarkannya dari tempat di mana ia tinggal, menuju tempat di mana ia
biasa menjajakan dagangannya.
Ia sudah melakukannya sejak
lama, meski banyak orang hanya berlalu lalang melewatinya tanpa ingin
membeli makanan yang ia jajakan. Bila Shila ditanya, apakah wanita tua
ini tidak lelah dengan apa yang ia lakukan setiap hari, ia akan
tersenyum dan berkata, "Tidak, aku kemari dengan bus. Lagipula,
kesehatanku tidak seburuk itu."
Mungkin tidak cukup di situ
keheranan kita pada wanita bekerja yang sudah lanjut usia dan mestinya
beristirahat di rumah. Wanita ini masih memiliki tanggungan 4 anggota
keluarga sementara penghasilannya sebanyak 400 rupee setiap hari tak
akan pernah cukup.
Mungkin Shila bisa mengemis, namun ia masih
memiliki harga diri dan rasa hormat pada orang lain, sehingga ia lebih
memilih untuk bekerja dengan segenap dirinya sendiri daripada harus
mengemis di jalanan.
Shila adalah contoh wanita yang tidak
menyerah dan tidak mengeluh pada keadaan. Ia tahu ia sudah tua, namun ia
tidak akan bertahan hidup bila ia tidak melakukan sesuatu dengan
kondisi hidupnya yang serba terbatas bukan?
Ia bahkan tidak
memikirkan dirinya sendiri, ia masih bersedia bekerja demi menghidupi 4
orang anggota keluarganya. Sebuah kisah kehidupan sederhana dari seorang
wanita tua ini, bisa mengajarkan kita mengenai perjuangan untuk
bertahan hidup.
Ya, karena tidak banyak dari kita yang
benar-benar berjuang dalam kehidupan, hanya menikmati hidup dan menunggu
bola kesempatan datang kepada kita. Dan kita akan mulai mengeluh ketika
kesulitan yang datang.
Ingatkah berapa kali dalam sehari kita
mungkin mengeluhkan apa yang tidak kita dapatkan? Apa yang tidak kita
miliki? Tentang hidup yang tidak sesuai impian. Tentang barang yang
tidak kita miliki. Tentang kecantikan yang kita dambakan.
Sudahkah
kita benar-benar bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan hari ini,
kemarin, seminggu yang lalu? Sudahkah kita benar-benar memanfaatkan itu
semua?
Jangan mengeluh dengan gaji sedikit. Usahakan dengan
halal apa yang kita inginkan. Jangan mengeluh dengan kulit yang tidak
putih atau wajah yang tidak cantik, Anda bisa melakukan kebaikan dan
hati Anda akan lebih dilihat daripada bagaimana rupa Anda. Jangan
menyerah pada kemiskinan, berusaha dan berusahalah.
Dunia ini
masih adil bagi mereka yang ingin berusaha dan rejeki akan datang pada
mereka yang berjuang. Tak usah Anda mengeluh karena pada akhirnya
Andalah yang akan lebih bahagia dengan apa yang Anda perjuangkan.
"..karena tidak banyak dari kita yang benar-benar berjuang dalam
kehidupan, hanya menikmati hidup dan menunggu bola kesempatan datang
kepada kita. Dan kita akan mulai mengeluh ketika kesulitan yang datang."
+++ PLEASE SHARE AND LIKE JIKA BERMANFAAT +++
Wednesday, March 13, 2013
Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalulalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan "Saya buta, kasihanilah saya."
Lalu pria itu meminta papan yang dibawa
anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil
tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi
meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung
supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang
dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang
luar biasa bagi anak itu.
Beberapa waktu kemudian pria itu
kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada
pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya.
Pria itu menjawab, "Saya menulis 'Hari ini adalah hari yang sangat
indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.' Saya hanya ingin mengutarakan
betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin
pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya
ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan
untuk selalu bersyukur."
Pria itu melanjutkan kata-katanya,
"Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa
ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa
masih ada 1000 alasan untuk tersenyum."
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
Memaafkan orang yang pernah menyakiti kita
akan membuat kita semakin KUAT. Jika kita dihina maka kita hanya perlu
menahaan hinaan mereka selama beberapa waktu, tapi mereka akan
menanggung keburukan perbuatannya seumur hidup.
Kisah berikut adalah kisah nyata dari Afrika Selatan.
Selama bertahun-tahun, orang kulit putih di sana melakukan banyak
kekejian pada kaum kulit hitam. Saat Apartheid berhenti dan Nelson
Mandela menjadi Presiden Afrika Selatan, beliau tidak menuntut balas.
Sebaliknya ia mendirikan sebuah komisi, yaitu Truth and Reconciliation
Commission (Komisi Kebenaran dan Rujuk Damai). Pihak mana pun yang telah
melakukan kejahatan bisa mendatangi komisi itu, mengakui semua
kesalahan dan keburukan yang pernah dilakukannya, dan ia akan diberi
pengampunan walau seburuk apa pun itu.
Suatu hari, seorang
polisi mengakui bagaimana dengan kejinya ia menyiksa mati seorang
aktivis kulit hitam, dilakukan di hadapan istri aktivis yang telah
meninggal itu. Polisi itu gemetar ketakutan saat mengakuinya dan merasa
bersalah sepanjang hidupnya.
Setelah selesai, si janda bangkit
dan berlari ke arah polisi itu. Polisi itu berpikiran si janda akan
membunuhnya sebagai balas dendam. Namun sebaliknya, si janda memeluk si
polisi sambil berkata "Aku memaafkan kamu".
Jika si perempuan
itu bisa memaafkan pembunuh suaminya, tidakkah kita bisa mengampuni
kesalahan lebih kecil yang dilakukan pada kita?
Apa pun yang dilakukan oleh orang kepada kita, tugas kita adalah memaafkan mereka, biarlah karma yang menegakkan keadilan.
Jika saja orang-orang bisa saling memaafkan, maka dunia akan bebas dari konflik dan peperangan.
Story By Ajahn Brahm (Penulis Buku Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya)
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
Sunday, March 10, 2013

Kisah nyata ini terjadi pada tahun 2010 yang lalu, tentang seorang anak
bernama Ah Long yang hidup sendiri di sebuah desa kaki bukit di Gunung
Malu, Liuzhou di provinsi Guangxi, China. Umurnya baru 6 tahun, kedua
orang tuanya telah meninggal dikarenakan mengidap penyakit AIDS
berturut-turut di tahun 2008 dan 2010.
Orang-orang di sekitarnya mengucilkannya karena Ah Long dilahirkan
dengan virus HIV yang mengalir di darahnya. Ah Long harus menjaga
dirinya sendiri karena kebanyakan orang takut untuk mendekat,
Satu-satunya sahabat sejatinya adalah anjingnya yang bernama Lao Hei
yang selalu setia menemani disampingnya.
Satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah neneknya yang berusia 84
tahun. Kadang si nenek mengunjunginya dan memasak untuknya, namun tidak
bersedia tinggal bersamanya. Karena Penyakitnya orang orang
disekitarnya tidak menghiraukannya. Sekolah tidak mau menerimanya,
bahkan para orang tua murid sepakat akan mencelakainya apabila Ah long
muncul ke sekolah dan bermain dengan anak-anak mereka.
Dokterpun enggan mengobatinya apabila Ah long Kecil sakit, bahkan
Departemen Kesejahteraan tidak mau mengurus anak tersebut. Biro Sipil
setempat menyediakan dana sebesar 70 yuan per bulan atau sekitar Rp
90.000 per bulan.
Jumlah ini tidak cukup untuk anak kecil seumur Ah Long untuk hidup. Ah
Long menjalani kehidupan
sendiri. Dia menanam cabai, daun bawang dan
memelihara ayam. Dia mencuci dan memasak sendiri. Dia tidur dan bermain
dengan anjingnya.
Ada juga yang bersimpati dengan Ah Long dengan memberikan pakaian,
makanan dan selimut bekas. Ada yang memberikan Ah Long 20 kilogram
beras dan 5 kilogram mie, ada juga yang membawakan dia sebuah surat
kabar mingguan untuk mengikuti berita dunia terbaru.
Sejak cerita Ah Long diangkat oleh media, ia mendapatkan banyak
perhatian termasuk dari pemerintah Cina. Sebuah rumah amal di kota
Liuzhou setuju untuk mengurusnya. Ah Long juga mendapat perhatian dari
orang-orang yang baik hati. Ah Long pun dibangunkan rumah baru tepat di
sebelah rumahnya yang lama dengan dua kamar tidur, satu ruang keluarga
dan satu toilet.
Sebenarnya masih banyak bocah-bocah seperti Ah Long, tidak hanya di
China di negara-negara lainpun mereka banyak yang diabaikan dan hidup
sebatang kara. Hidup yang mereka jalani bukan kesalahan mereka, mereka
tidak bisa memilih dilahirkan dengan mengidap HIV yang diturunkan oleh
orang tuanya.
+++ PLEASE SHARE AND LIKE +++
Saturday, March 9, 2013
Ada seorang nenek yang duduk di dekat seorang pria. Mereka sedang mengamati anak dan cucunya bermain di taman kota.
“Lihatlah, gadis kecil yg berbaju kuning, itu cucuku,” kata sang nenek
sambil menunjuk ke arah gadis kecil yang sedang bermain ayunan.
“Wah cantik sekali cucu anda,” jawab pria itu.
“Anda lihat anak laki-laki yang sedang bermain pasir mengenakan jaket berwarna cokelat? Dia anakku,” ujar pria itu.
Sambil memandangi jam tangannya, pria itu memanggil anaknya dan menyuruhnya untuk segera pulang.
“Ayah, beri aku waktu lima menit lagi ya. Aku belum puas bermain,” kata anaknya dengan wajah memelas.
“Baiklah, lima menit lagi,” jawabnya.
Sang anak kembali bermain pasir dengan riangnya. Lima menit kemudian,
pria itu berdiri dan memanggil anaknya kembali, “Nak, ayo pulang, sudah
lima menit berlalu.”
Lagi-lagi anaknya memohon, “Ayah, lima menit lagi ya. Kan hanya lima menit saja. Boleh ya, ayah.”
Pria itu hanya menggangguk menyetujui permintaan anaknya.
“Wah, anda ternyata seorang ayah yang sabar ya,” kata nenek itu.
Pria itupun terseyum kecil lalu menjawab, “Anak sulungku terbunuh oleh
sopir yang ugal-ugalan saat sedang bermain di taman. Aku tidak pernah
mempunyai waktu yang cukup untuk menemainya bermain.
Untuk
sekarang ini, aku akan memberikan seluruh waktuku yang ada untuk anakku
meskipun hanya lima menit lagi. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yg
sama. Mungkin bagi anakku, dia mendapat bonus waktu lima menit untuk
bermain pasir, bermain ayunan dan bermain yang lainnya. Padahal
sesungguhnya akulah yang mendapat waktu tambahan untuk bisa terus
melihatnya bermain, menikmati kebersamaan dan melihat canda tawanya.”
Hidup ini bukanlah suatu perlombaan. Hidup adalah tentang membuat skala
prioritas. Prioritas apa yang kita miliki saat ini? Berikanlah pada
seseorang yang kita kasihi, terutama sekali pada keluarga. lima menit
saja dari waktu yang kita miliki dan kita pastilah tidak akan menyesal
selamanya.
+++PLEASE LIKE AND SHARE +++
Bob
Butler kehilangan kakinya dalam sebuah ledakan ranjau darat di Vietnam
tahun 1965. Ia kembali ke rumah sebagai pahlawan perang. Dua puluh tahun
kemudian, ia membuktikan sekali lagi bahwa kepahlawanannya berasal dari
hati.
Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di sebuah kota
kecil di Arizona, Amerika Serikat saat musim panas, ketika ia mendengar
jeritan seorang wanita dari sebuah rumah di dekatnya. Ia mulai
menggulirkan kursi rodanya menuju rumah, tetapi semak-semak rimbun tidak
bisa membuatnya masuk melalui pintu belakang. Lalu ia turun dari kursi
rodanya dan mulai merangkak melewati sampah dan semak-semak.
“Aku harus ke sana,” katanya. “Tidak peduli betapa sakitnya.” Ketika
Butler tiba di kolam renang ada seorang gadis tiga tahun, Stephanie
Hanes, tercebur ke dalamnya. Ia lahir tanpa lengan dan jatuh ke dalam
air, padahal tidak bisa berenang. Ibunya berdiri berteriak panik.
Butler terjun ke dasar kolam dan membawanya naik. Wajahnya membiru,
tidak ada denyut, dan tidak bernapas. Butler segera melakukan pernapasan
buatan untuk mencoba membuatnya bernapas kembali. Sementara, ibu
Stephanie menelepon paramedis, yang segera keluar memenuhi panggilannya.
Karena tak berdaya, ia menangis dan memeluk bahu Butler.
Butler melanjutkan memberikan napas buatan, dan dengan tenang meyakinkan
si ibu. Jangan khawatir, katanya. “Saya sudah menjadi tangannya untuk
keluar dari kolam renang. Kini, saya menjadi paru-parunya. Mari, kita
bersama-sama membuatnya.”
Beberapa detik kemudian gadis kecil
itu batuk-batuk, sadar kembali, dan mulai menangis. Sang ibu langsung
memeluk anaknya. Sambil berpelukan, ibu Stephanie bertanya kepada Butler
bagaimana ia tahu kalau anaknya akan baik-baik saja.
“Saya
tidak tahu,” katanya. “Tapi ketika kaki saya meledak di medan perang,
saya sendirian. Tidak ada seorang pun di sana yang membantu saya,
kecuali seorang gadis Vietnam. Ia berjuang menyeret saya ke desanya, ia
berbisik dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah, ‘Tidak apa-apa. Anda
dapat hidup lagi. Saya akan menjadi kaki Anda. Bersama-sama kita buat
itu.’
Kata-kata itulah yang membawanya harapan bagi jiwa saya dan saya ingin melakukan hal yang sama untuk Stephanie.“
Ada saat-saat ketika kita tidak bisa berdiri sendiri. Ada saat-saat
ketika kita membutuhkan seseorang untuk menjadi kaki kita, tangan kita,
teman kita. Tetapi ada saatnya juga kita menjadi kaki atau tangan bagi
orang lain. Pastikan hidup kita berguna antara satu dengan yang lainnya.
Sumber: Angie Devita (Manado)
+++PLEASE LIKE AND SHARE +++
+++PLEASE LIKE AND SHARE +++
Adalah Yu Youzhen, seorang jutawan asal Kota Wuhan, China, yang kini menjadi bahasan utama di beberapa
surat kabar setempat. Pasalnya, untuk memberikan contoh positif bagi
kedua anaknya, Yu rela menjadi tukang sapu jalan yang hanya menerima
upah 1.420 yuan per bulan atau sekitar Rp 2,2 juta.
Uang yang didapatkannya dari upah menyapu jalan tentu tidaklah sebanding dengan pendapatannya saat ini. Yu, yang juga dikenal sebagai pemilik puluhan apartemen, tersebut memiliki aset jutaan yuan yang sangatlah cukup untuk menopang semua kebutuhan hidupnya. Namun, Yu tak ingin terlena dengan apa yang dia miliki sekarang.
Alih-alih bermalas-malasan di rumah dan menghitung semua kekayaannya, Yu tetap memutuskan untuk bekerja sebagai pekerja kebersihan. Pekerjaan tersebut rupanya telah ia lakukan sejak tahun 1998. Semua itu dilakukannya bukan tanpa alasan. Yu tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya. Pada tahun 1980, ia hanyalah seorang petani sayur miskin di Hongshan, distrik Donghu, desa Huojiawan. Bersama suaminya, Yu harus mau bekerja keras untuk menghemat uang mereka.
Setelah bertahun-tahun bekerja dari fajar hingga senja, mereka berhasil menjadi keluarga pertama yang memiliki rumah 3 lantai. Kala itu, banyak orang yang datang ke Wuhan untuk mencari pekerjaan, dan banyak dari mereka yang membutuhkan tempat tinggal, sehingga Yu mulai menyewakan kamar cadangannya di rumahnya. Setiap kamar sewa menghasilkan sekitar 50 yuan setiap bulan.
Uang itu kemudian digunakan untuk membangun lebih banyak rumah dan menambah lantai. Setelah beberapa tahun, Yu dan suaminya memiliki tiga bangunan 5 lantai, yang sebagian besar disewakan. Beruntung lagi, sesuai dengan kebijakan penggantian dan pembangunan kembali lahan, Yu dan keluarganya mendapat kompensasi 21 apartemen dari pemerintah untuk seluruh rumah yang telah mereka bangun di Huojiawan.Kekayaan itu tak pelak menyilaukan mata Yu dan suaminya.
Ia yang sedari dulu telah bekerja keras tidak ingin kedua anaknya hidup berfoya-foya. Secara pribadi, Yu sangat menyayangkan sikap warga desanya yang sering menyia-nyiakan kekayaan mereka hanya untuk berjudi, minum, dan narkoba. Oleh karenanya, Yu bertekad akan mendidik anak-anaknya dengan memberi contoh yang baik.
Salah satunya dengan menjadi tukang sapu jalan.Ia bekerja sejak pukul 3 pagi selama enam hari dalam seminggu. Untuk membersihkan jalanan sepanjang 3 km, ia bahkan harus menghabiskan 6 jam sehari. Yu tidak hanya menyapu jalan, tetapi juga membersihkan semua tong sampah yang terdapat di sepanjang jalan.
"Saya ingin memberi contoh untuk putra dan putri saya. Seseorang tidak bisa hanya duduk di rumah dan 'menggerogoti' semua kekayaannya," kata Yu ketika ditanya perihal alasannya bekerja sebagai pembersih jalan, sebagaimana dilansir Oddtycentral (10/1). Yu juga memperingatkan kedua anaknya untuk tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Jika tidak, ia mengancam untuk menyumbangkan semua hartanya pada negara. Kini, anak laki-lakinya telah bekerja sebagai supir di area Donghu Scenic dan digaji lebih dari 2.000 yuan per bulan, sedangkan putrinya bekerja di sebuah perkantoran dengan upah 3.000 yuan per bulan.
Setiap orang punya cara tersendiri untuk memaknai hidup. Namun, apakah hidup hanya sebatas kepuasan diri untuk apa yang telah kita dapatkan?
Ataukah kita tetap berjuang seperti apa yang dilakukan Yu sepanjang hidupnya?
Sumber:http://news.liputan6.com/read/ 481228/ ajari-anak-hakikat-kerja-keras- jutawan-cina-jadi-tukang-sapu
Uang yang didapatkannya dari upah menyapu jalan tentu tidaklah sebanding dengan pendapatannya saat ini. Yu, yang juga dikenal sebagai pemilik puluhan apartemen, tersebut memiliki aset jutaan yuan yang sangatlah cukup untuk menopang semua kebutuhan hidupnya. Namun, Yu tak ingin terlena dengan apa yang dia miliki sekarang.
Alih-alih bermalas-malasan di rumah dan menghitung semua kekayaannya, Yu tetap memutuskan untuk bekerja sebagai pekerja kebersihan. Pekerjaan tersebut rupanya telah ia lakukan sejak tahun 1998. Semua itu dilakukannya bukan tanpa alasan. Yu tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya. Pada tahun 1980, ia hanyalah seorang petani sayur miskin di Hongshan, distrik Donghu, desa Huojiawan. Bersama suaminya, Yu harus mau bekerja keras untuk menghemat uang mereka.
Setelah bertahun-tahun bekerja dari fajar hingga senja, mereka berhasil menjadi keluarga pertama yang memiliki rumah 3 lantai. Kala itu, banyak orang yang datang ke Wuhan untuk mencari pekerjaan, dan banyak dari mereka yang membutuhkan tempat tinggal, sehingga Yu mulai menyewakan kamar cadangannya di rumahnya. Setiap kamar sewa menghasilkan sekitar 50 yuan setiap bulan.
Uang itu kemudian digunakan untuk membangun lebih banyak rumah dan menambah lantai. Setelah beberapa tahun, Yu dan suaminya memiliki tiga bangunan 5 lantai, yang sebagian besar disewakan. Beruntung lagi, sesuai dengan kebijakan penggantian dan pembangunan kembali lahan, Yu dan keluarganya mendapat kompensasi 21 apartemen dari pemerintah untuk seluruh rumah yang telah mereka bangun di Huojiawan.Kekayaan itu tak pelak menyilaukan mata Yu dan suaminya.
Ia yang sedari dulu telah bekerja keras tidak ingin kedua anaknya hidup berfoya-foya. Secara pribadi, Yu sangat menyayangkan sikap warga desanya yang sering menyia-nyiakan kekayaan mereka hanya untuk berjudi, minum, dan narkoba. Oleh karenanya, Yu bertekad akan mendidik anak-anaknya dengan memberi contoh yang baik.
Salah satunya dengan menjadi tukang sapu jalan.Ia bekerja sejak pukul 3 pagi selama enam hari dalam seminggu. Untuk membersihkan jalanan sepanjang 3 km, ia bahkan harus menghabiskan 6 jam sehari. Yu tidak hanya menyapu jalan, tetapi juga membersihkan semua tong sampah yang terdapat di sepanjang jalan.
"Saya ingin memberi contoh untuk putra dan putri saya. Seseorang tidak bisa hanya duduk di rumah dan 'menggerogoti' semua kekayaannya," kata Yu ketika ditanya perihal alasannya bekerja sebagai pembersih jalan, sebagaimana dilansir Oddtycentral (10/1). Yu juga memperingatkan kedua anaknya untuk tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Jika tidak, ia mengancam untuk menyumbangkan semua hartanya pada negara. Kini, anak laki-lakinya telah bekerja sebagai supir di area Donghu Scenic dan digaji lebih dari 2.000 yuan per bulan, sedangkan putrinya bekerja di sebuah perkantoran dengan upah 3.000 yuan per bulan.
Setiap orang punya cara tersendiri untuk memaknai hidup. Namun, apakah hidup hanya sebatas kepuasan diri untuk apa yang telah kita dapatkan?
Ataukah kita tetap berjuang seperti apa yang dilakukan Yu sepanjang hidupnya?
Sumber:http://news.liputan6.com/read/
+++PLEASE LIKE AND SHARE ++++
Subscribe to:
Posts (Atom)







