Thursday, March 21, 2013
Hati siapa yang tidak tersentuh melihat
seorang pria menarik becak di siang hari yang panas sambil menggendong
bayi? Hal ini benar-benar terjadi di India. Pria ini mengasuh bayinya
karena sang istri meninggal setelah melahirkan dan tidak ada yang bersedia merawat sang bayi.
Dilansir Dailymail, nama pria ini adalah Bablu Jatav, 38 tahun. Dia
dikaruniai seorang bayi perempuan yang diberi nama Damini setelah
menikah selama 15 tahun dengan istrinya, Shanti. Pak Bablu mengatakan
bahwa dia sangat senang diberkati seorang putri, tetapi dia menyimpan
kesedihan mendalam karena sang istri meninggal sesaat setelah
melahirkan.
"Shanti meninggal tidak lama setelah melahirkan di
rumah sakit pada tanggal 20 September," ujar pak Bablu. "Sejak saat itu,
belum ada seorang pun yang mau merawat putri saya, sehingga saya yang
merawatnya, bahkan pada saat saya menarik becak," lanjutnya.
Pekerjaan pak Bablu sehari-hari adalah penarik becak di kota Bharatpur.
Dia tidak memiliki saudara yang bisa merawat bayinya, sehingga jalan
satu-satunya adalah merawat sang putri sambil bekerja. Pak Bablu
menggendong bayinya dengan kain yang dililitkan di leher. Hal ini
terpaksa dia lakukan, bahkan di tengah hari yang sangat panas.
Kondisi ini memang memprihatinkan, terutama bagi Damini yang masih
sangat kecil. Panasnya matahari dan kondisi jalanan membuatnya harus
dilarikan di rumah sakit Jaipur beberapa waktu yang lalu. Sang bayi
mengalami septikemia, anemia dan dehidrasi akut. Untungnya, kondisi sang
bayi membaik setelah dirawat.
Berita ini dengan cepat menyebar
di India, sehingga banyak tawaran bantuan yang diterima oleh pak Bablu.
Besar kemungkinan bahwa pemerintah India setempat sedang memproses cara
untuk membantu merawat sang bayi. Semoga bantuan segera datang,
sehingga bayi perempuan ini mendapat perawatan yang lebih baik.
Sahabat-sahabat yang terkasih, jangan remehkan cinta seorang ayah. Sudahkah Anda berterima kasih pada beliau?
+++PLEASE SHARE AND LIKE+++
Banyak orang yang tega membuang bayi yang
masih hidup dengan banyak alasan. Malu karena sang bayi lahir di luar
pernikahan, atau.. takut karena tidak punya biaya untuk menghidupi sang bayi. Tapi tahukah Anda, seorang pemulung di China mampu mengadopsi 30 bayi yang dibuang.
Nama wanita ini adalah Lou Xiaoying, usianya saat ini 88 tahun.
Pekerjaannya adalah pemulung sampah, suami Lou Xiaoying telah meninggal
17 tahun yang lalu. Keadaan hidup yang sulit dan keterbatasan ekonomi
tidak mengecilkan hati Lou Xiaoying untuk berbuat baik pada sesama
manusia. Dia telah mengadopsi 30 bayi sejak tahun 1972.
Walaupun usianya sudah menua, kebaikan hati Lou Xiaoying tidak surut
dimakan usia. Anak adopsi yang paling muda saat ini berusia enam tahun,
namanya Zhang Qilin. Lou Xiaoying menemukan bayi tersebut di tempat
sampah. Dengan kondisi yang lemah, wanita itu membawa sang bayi ke
rumahnya yang sangat kecil untuk dirawat. "Kini dia sudah menjadi anak
yang sehat dan bahagia," ujar Lou Xiaoying.
Sementara itu, anak
adopsi pertama ditemukan Lou Xiaoying di jalan, seorang bayi perempuan.
"Ia terbaring di antara sampah di jalan, terlantar," kenang wanita tua
itu. Dengan keterbatasan Tidak semua bayi yang ditemukan dan dirawat Lou
Xiaoying terus bersamanya hingga dewasa. Beberapa di antara mereka
diadopsi keluarga yang lebih mampu.
"Saya tidak mengerti
mengapa orang-orang tega meninggalkan bayi selemah itu di jalan," ujar
Lou Xiaoying. Baginya, bayi-bayi tersebut adalah makhluk hidup yang
berharga, mereka seharusnya mendapat kasih sayang dan cinta.
Kisah ini mulai menyebar ke seluruh China dan mendapat perhatian dunia.
Seseorang yang menaruh simpati pada kisah ini Seseorang yang simpatik
terhadap Lou mengatakan bahwa pemerintah, sekolah, dan masyarakat China
yang tak berbuat apa-apa seharusnya malu pada Lou. “Dia tak punya uang
atau kekuasaan, tetapi mampu menyelamatkan anak-anak dari kematian dan
kondisi yang lebih parah,” ungkapnya.
Kisah nyata ini
membuktikan bahwa kebaikan hati seseorang tidak dapat dinilai dengan
materi. Seorang pemulung sampah yang kehidupannya sulit bisa memiliki
hati semulia emas.
Jadilah manusia yang berguna untuk orang lain. Jangan menunggu materi atau kesempatan. Hati mulia yang akan menuntun Anda.
+++ PLEASE SHARE AND LIKE +++
Tuesday, March 19, 2013
Di
sebuah toko hewan yang menjual berbagai jenis anjing peliharaan,
terpajang sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa ada beberapa anak
anjing berusia sebulan yang siap dijual. Melihat pengumuman itu, seorang
anak laki-laki, masuk ke dalam toko kemudian bertanya, "Berapa harga
anak anjing yang Anda jual?" kemudian sang pemilik toko menjawab, "Satu
anak anjing bisa diberi harga 500 ribu sampai 700 ribu rupiah,"
Anak laki-laki itu kemudian mengambil beberapa lembar uang yang ada di
dalam saku celananya, "Uangku hanya lima puluh ribu, apakah aku boleh
melihat-lihat anak anjing yang Anda jual?"
Pemilik toko anjing
itu tersenyum dan tidak keberatan, dia segera bersiul dan muncul
beberapa ekor anjing yang berlarian menuju sang pemilik toko. Dari
beberapa ekor anak anjing tersebut, ada salah satu anak anjing yang
berjalan sedikit pincang dan tertinggal di belakang. "Anak anjing itu
kenapa?" tanya sang bocah.
Sang pemilik toko kemudian
menjelaskan bahwa anak anjing itu memang mengalami cacat fisik sejak
lahir, pada salah satu kaki belakangnya. "Kalau begitu, aku mau membeli
anak anjing itu," kata sang anak laki-laki.
"Aku sarankan agar
kau tidak membeli anak anjing cacat itu, tetapi kalau kau
menginginkannya, aku akan memberikan secara cuma-cuma," ujar sang
pemilik toko.
Wajah anak laki-laki itu tampak kecewa. "Aku
tidak mau kalau Anda memberikan anak anjing itu secara cuma-cuma.
Sekarang saya hanya punya uang lima puluh ribu, aku akan mencicil
membayarnya dengan uang sakuku," ujarnya dengan suara yang yakin dan
mantap.
"Nak, kenapa kau ingin membeli anak anjing cacat itu?
Dia tidak bisa berlari dengan cepat, tidak bisa melompat dengan gesit
dan bermain seperti anak anjing lainnya," ujar sang pemilik toko.
Setelah terdiam beberapa detik, anak laki-laki itu menarik ujung celana
panjang yang dia pakai. Tampak sepasang kaki yang terbuat dari bahan
metalik, sepasang kaki palsu. "Aku juga tidak bisa berlari dengan cepat,
tidak bisa melompat dengan bebas seperti anak-anak lainnya. Karena itu
aku tahu bagaimana rasanya, dan anak anjing itu membutuhkan seseorang
yang mengerti bagaimana rasanya menjadi sosok yang--aku lebih suka
menyebutnya spesial dibandingkan cacat,"
Pemilik toko langsung
terharu dan mengatakan, "Aku akan berdoa agar anak-anak anjing yang lain
bisa memiliki majikan sebaik dan sehebat dirimu, nak."
+++PLEASE SHARE AND LIKE +++
Ada
sebuah kisah nyata sederhana yang akan SL-Books bagikan pada Anda.
Sebuah kisah mengenai wanita tua berusia 83 tahun yang masih berdagang
untuk menghidupi keluarganya.
Apa yang Anda bayangkan di usia 83 tahun Anda? Mungkin masa tua sambil
menimang cucu, masa pensiun yang tenang dan segala kebahagiaan yang Anda
idamkan.
Nyatanya Shila Ghosh, wanita tua yang tinggal di
Pali, Bengal Barat, India, setiap sore menaiki bus yang akan
mengantarkannya dari tempat di mana ia tinggal, menuju tempat di mana ia
biasa menjajakan dagangannya.
Ia sudah melakukannya sejak
lama, meski banyak orang hanya berlalu lalang melewatinya tanpa ingin
membeli makanan yang ia jajakan. Bila Shila ditanya, apakah wanita tua
ini tidak lelah dengan apa yang ia lakukan setiap hari, ia akan
tersenyum dan berkata, "Tidak, aku kemari dengan bus. Lagipula,
kesehatanku tidak seburuk itu."
Mungkin tidak cukup di situ
keheranan kita pada wanita bekerja yang sudah lanjut usia dan mestinya
beristirahat di rumah. Wanita ini masih memiliki tanggungan 4 anggota
keluarga sementara penghasilannya sebanyak 400 rupee setiap hari tak
akan pernah cukup.
Mungkin Shila bisa mengemis, namun ia masih
memiliki harga diri dan rasa hormat pada orang lain, sehingga ia lebih
memilih untuk bekerja dengan segenap dirinya sendiri daripada harus
mengemis di jalanan.
Shila adalah contoh wanita yang tidak
menyerah dan tidak mengeluh pada keadaan. Ia tahu ia sudah tua, namun ia
tidak akan bertahan hidup bila ia tidak melakukan sesuatu dengan
kondisi hidupnya yang serba terbatas bukan?
Ia bahkan tidak
memikirkan dirinya sendiri, ia masih bersedia bekerja demi menghidupi 4
orang anggota keluarganya. Sebuah kisah kehidupan sederhana dari seorang
wanita tua ini, bisa mengajarkan kita mengenai perjuangan untuk
bertahan hidup.
Ya, karena tidak banyak dari kita yang
benar-benar berjuang dalam kehidupan, hanya menikmati hidup dan menunggu
bola kesempatan datang kepada kita. Dan kita akan mulai mengeluh ketika
kesulitan yang datang.
Ingatkah berapa kali dalam sehari kita
mungkin mengeluhkan apa yang tidak kita dapatkan? Apa yang tidak kita
miliki? Tentang hidup yang tidak sesuai impian. Tentang barang yang
tidak kita miliki. Tentang kecantikan yang kita dambakan.
Sudahkah
kita benar-benar bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan hari ini,
kemarin, seminggu yang lalu? Sudahkah kita benar-benar memanfaatkan itu
semua?
Jangan mengeluh dengan gaji sedikit. Usahakan dengan
halal apa yang kita inginkan. Jangan mengeluh dengan kulit yang tidak
putih atau wajah yang tidak cantik, Anda bisa melakukan kebaikan dan
hati Anda akan lebih dilihat daripada bagaimana rupa Anda. Jangan
menyerah pada kemiskinan, berusaha dan berusahalah.
Dunia ini
masih adil bagi mereka yang ingin berusaha dan rejeki akan datang pada
mereka yang berjuang. Tak usah Anda mengeluh karena pada akhirnya
Andalah yang akan lebih bahagia dengan apa yang Anda perjuangkan.
"..karena tidak banyak dari kita yang benar-benar berjuang dalam
kehidupan, hanya menikmati hidup dan menunggu bola kesempatan datang
kepada kita. Dan kita akan mulai mengeluh ketika kesulitan yang datang."
+++ PLEASE SHARE AND LIKE JIKA BERMANFAAT +++
Wednesday, March 13, 2013
Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalulalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan "Saya buta, kasihanilah saya."
Lalu pria itu meminta papan yang dibawa
anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil
tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi
meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung
supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang
dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang
luar biasa bagi anak itu.
Beberapa waktu kemudian pria itu
kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada
pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya.
Pria itu menjawab, "Saya menulis 'Hari ini adalah hari yang sangat
indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.' Saya hanya ingin mengutarakan
betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin
pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya
ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan
untuk selalu bersyukur."
Pria itu melanjutkan kata-katanya,
"Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa
ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa
masih ada 1000 alasan untuk tersenyum."
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
Memaafkan orang yang pernah menyakiti kita
akan membuat kita semakin KUAT. Jika kita dihina maka kita hanya perlu
menahaan hinaan mereka selama beberapa waktu, tapi mereka akan
menanggung keburukan perbuatannya seumur hidup.
Kisah berikut adalah kisah nyata dari Afrika Selatan.
Selama bertahun-tahun, orang kulit putih di sana melakukan banyak
kekejian pada kaum kulit hitam. Saat Apartheid berhenti dan Nelson
Mandela menjadi Presiden Afrika Selatan, beliau tidak menuntut balas.
Sebaliknya ia mendirikan sebuah komisi, yaitu Truth and Reconciliation
Commission (Komisi Kebenaran dan Rujuk Damai). Pihak mana pun yang telah
melakukan kejahatan bisa mendatangi komisi itu, mengakui semua
kesalahan dan keburukan yang pernah dilakukannya, dan ia akan diberi
pengampunan walau seburuk apa pun itu.
Suatu hari, seorang
polisi mengakui bagaimana dengan kejinya ia menyiksa mati seorang
aktivis kulit hitam, dilakukan di hadapan istri aktivis yang telah
meninggal itu. Polisi itu gemetar ketakutan saat mengakuinya dan merasa
bersalah sepanjang hidupnya.
Setelah selesai, si janda bangkit
dan berlari ke arah polisi itu. Polisi itu berpikiran si janda akan
membunuhnya sebagai balas dendam. Namun sebaliknya, si janda memeluk si
polisi sambil berkata "Aku memaafkan kamu".
Jika si perempuan
itu bisa memaafkan pembunuh suaminya, tidakkah kita bisa mengampuni
kesalahan lebih kecil yang dilakukan pada kita?
Apa pun yang dilakukan oleh orang kepada kita, tugas kita adalah memaafkan mereka, biarlah karma yang menegakkan keadilan.
Jika saja orang-orang bisa saling memaafkan, maka dunia akan bebas dari konflik dan peperangan.
Story By Ajahn Brahm (Penulis Buku Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya)
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
+++ PLEASE LIKE AND SHARE+++
Sunday, March 10, 2013

Kisah nyata ini terjadi pada tahun 2010 yang lalu, tentang seorang anak
bernama Ah Long yang hidup sendiri di sebuah desa kaki bukit di Gunung
Malu, Liuzhou di provinsi Guangxi, China. Umurnya baru 6 tahun, kedua
orang tuanya telah meninggal dikarenakan mengidap penyakit AIDS
berturut-turut di tahun 2008 dan 2010.
Orang-orang di sekitarnya mengucilkannya karena Ah Long dilahirkan
dengan virus HIV yang mengalir di darahnya. Ah Long harus menjaga
dirinya sendiri karena kebanyakan orang takut untuk mendekat,
Satu-satunya sahabat sejatinya adalah anjingnya yang bernama Lao Hei
yang selalu setia menemani disampingnya.
Satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah neneknya yang berusia 84
tahun. Kadang si nenek mengunjunginya dan memasak untuknya, namun tidak
bersedia tinggal bersamanya. Karena Penyakitnya orang orang
disekitarnya tidak menghiraukannya. Sekolah tidak mau menerimanya,
bahkan para orang tua murid sepakat akan mencelakainya apabila Ah long
muncul ke sekolah dan bermain dengan anak-anak mereka.
Dokterpun enggan mengobatinya apabila Ah long Kecil sakit, bahkan
Departemen Kesejahteraan tidak mau mengurus anak tersebut. Biro Sipil
setempat menyediakan dana sebesar 70 yuan per bulan atau sekitar Rp
90.000 per bulan.
Jumlah ini tidak cukup untuk anak kecil seumur Ah Long untuk hidup. Ah
Long menjalani kehidupan
sendiri. Dia menanam cabai, daun bawang dan
memelihara ayam. Dia mencuci dan memasak sendiri. Dia tidur dan bermain
dengan anjingnya.
Ada juga yang bersimpati dengan Ah Long dengan memberikan pakaian,
makanan dan selimut bekas. Ada yang memberikan Ah Long 20 kilogram
beras dan 5 kilogram mie, ada juga yang membawakan dia sebuah surat
kabar mingguan untuk mengikuti berita dunia terbaru.
Sejak cerita Ah Long diangkat oleh media, ia mendapatkan banyak
perhatian termasuk dari pemerintah Cina. Sebuah rumah amal di kota
Liuzhou setuju untuk mengurusnya. Ah Long juga mendapat perhatian dari
orang-orang yang baik hati. Ah Long pun dibangunkan rumah baru tepat di
sebelah rumahnya yang lama dengan dua kamar tidur, satu ruang keluarga
dan satu toilet.
Sebenarnya masih banyak bocah-bocah seperti Ah Long, tidak hanya di
China di negara-negara lainpun mereka banyak yang diabaikan dan hidup
sebatang kara. Hidup yang mereka jalani bukan kesalahan mereka, mereka
tidak bisa memilih dilahirkan dengan mengidap HIV yang diturunkan oleh
orang tuanya.
+++ PLEASE SHARE AND LIKE +++
Subscribe to:
Posts (Atom)







