Saturday, March 9, 2013
Bob
Butler kehilangan kakinya dalam sebuah ledakan ranjau darat di Vietnam
tahun 1965. Ia kembali ke rumah sebagai pahlawan perang. Dua puluh tahun
kemudian, ia membuktikan sekali lagi bahwa kepahlawanannya berasal dari
hati.
Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di sebuah kota
kecil di Arizona, Amerika Serikat saat musim panas, ketika ia mendengar
jeritan seorang wanita dari sebuah rumah di dekatnya. Ia mulai
menggulirkan kursi rodanya menuju rumah, tetapi semak-semak rimbun tidak
bisa membuatnya masuk melalui pintu belakang. Lalu ia turun dari kursi
rodanya dan mulai merangkak melewati sampah dan semak-semak.
“Aku harus ke sana,” katanya. “Tidak peduli betapa sakitnya.” Ketika
Butler tiba di kolam renang ada seorang gadis tiga tahun, Stephanie
Hanes, tercebur ke dalamnya. Ia lahir tanpa lengan dan jatuh ke dalam
air, padahal tidak bisa berenang. Ibunya berdiri berteriak panik.
Butler terjun ke dasar kolam dan membawanya naik. Wajahnya membiru,
tidak ada denyut, dan tidak bernapas. Butler segera melakukan pernapasan
buatan untuk mencoba membuatnya bernapas kembali. Sementara, ibu
Stephanie menelepon paramedis, yang segera keluar memenuhi panggilannya.
Karena tak berdaya, ia menangis dan memeluk bahu Butler.
Butler melanjutkan memberikan napas buatan, dan dengan tenang meyakinkan
si ibu. Jangan khawatir, katanya. “Saya sudah menjadi tangannya untuk
keluar dari kolam renang. Kini, saya menjadi paru-parunya. Mari, kita
bersama-sama membuatnya.”
Beberapa detik kemudian gadis kecil
itu batuk-batuk, sadar kembali, dan mulai menangis. Sang ibu langsung
memeluk anaknya. Sambil berpelukan, ibu Stephanie bertanya kepada Butler
bagaimana ia tahu kalau anaknya akan baik-baik saja.
“Saya
tidak tahu,” katanya. “Tapi ketika kaki saya meledak di medan perang,
saya sendirian. Tidak ada seorang pun di sana yang membantu saya,
kecuali seorang gadis Vietnam. Ia berjuang menyeret saya ke desanya, ia
berbisik dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah, ‘Tidak apa-apa. Anda
dapat hidup lagi. Saya akan menjadi kaki Anda. Bersama-sama kita buat
itu.’
Kata-kata itulah yang membawanya harapan bagi jiwa saya dan saya ingin melakukan hal yang sama untuk Stephanie.“
Ada saat-saat ketika kita tidak bisa berdiri sendiri. Ada saat-saat
ketika kita membutuhkan seseorang untuk menjadi kaki kita, tangan kita,
teman kita. Tetapi ada saatnya juga kita menjadi kaki atau tangan bagi
orang lain. Pastikan hidup kita berguna antara satu dengan yang lainnya.
Sumber: Angie Devita (Manado)
+++PLEASE LIKE AND SHARE +++
+++PLEASE LIKE AND SHARE +++
Adalah Yu Youzhen, seorang jutawan asal Kota Wuhan, China, yang kini menjadi bahasan utama di beberapa
surat kabar setempat. Pasalnya, untuk memberikan contoh positif bagi
kedua anaknya, Yu rela menjadi tukang sapu jalan yang hanya menerima
upah 1.420 yuan per bulan atau sekitar Rp 2,2 juta.
Uang yang didapatkannya dari upah menyapu jalan tentu tidaklah sebanding dengan pendapatannya saat ini. Yu, yang juga dikenal sebagai pemilik puluhan apartemen, tersebut memiliki aset jutaan yuan yang sangatlah cukup untuk menopang semua kebutuhan hidupnya. Namun, Yu tak ingin terlena dengan apa yang dia miliki sekarang.
Alih-alih bermalas-malasan di rumah dan menghitung semua kekayaannya, Yu tetap memutuskan untuk bekerja sebagai pekerja kebersihan. Pekerjaan tersebut rupanya telah ia lakukan sejak tahun 1998. Semua itu dilakukannya bukan tanpa alasan. Yu tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya. Pada tahun 1980, ia hanyalah seorang petani sayur miskin di Hongshan, distrik Donghu, desa Huojiawan. Bersama suaminya, Yu harus mau bekerja keras untuk menghemat uang mereka.
Setelah bertahun-tahun bekerja dari fajar hingga senja, mereka berhasil menjadi keluarga pertama yang memiliki rumah 3 lantai. Kala itu, banyak orang yang datang ke Wuhan untuk mencari pekerjaan, dan banyak dari mereka yang membutuhkan tempat tinggal, sehingga Yu mulai menyewakan kamar cadangannya di rumahnya. Setiap kamar sewa menghasilkan sekitar 50 yuan setiap bulan.
Uang itu kemudian digunakan untuk membangun lebih banyak rumah dan menambah lantai. Setelah beberapa tahun, Yu dan suaminya memiliki tiga bangunan 5 lantai, yang sebagian besar disewakan. Beruntung lagi, sesuai dengan kebijakan penggantian dan pembangunan kembali lahan, Yu dan keluarganya mendapat kompensasi 21 apartemen dari pemerintah untuk seluruh rumah yang telah mereka bangun di Huojiawan.Kekayaan itu tak pelak menyilaukan mata Yu dan suaminya.
Ia yang sedari dulu telah bekerja keras tidak ingin kedua anaknya hidup berfoya-foya. Secara pribadi, Yu sangat menyayangkan sikap warga desanya yang sering menyia-nyiakan kekayaan mereka hanya untuk berjudi, minum, dan narkoba. Oleh karenanya, Yu bertekad akan mendidik anak-anaknya dengan memberi contoh yang baik.
Salah satunya dengan menjadi tukang sapu jalan.Ia bekerja sejak pukul 3 pagi selama enam hari dalam seminggu. Untuk membersihkan jalanan sepanjang 3 km, ia bahkan harus menghabiskan 6 jam sehari. Yu tidak hanya menyapu jalan, tetapi juga membersihkan semua tong sampah yang terdapat di sepanjang jalan.
"Saya ingin memberi contoh untuk putra dan putri saya. Seseorang tidak bisa hanya duduk di rumah dan 'menggerogoti' semua kekayaannya," kata Yu ketika ditanya perihal alasannya bekerja sebagai pembersih jalan, sebagaimana dilansir Oddtycentral (10/1). Yu juga memperingatkan kedua anaknya untuk tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Jika tidak, ia mengancam untuk menyumbangkan semua hartanya pada negara. Kini, anak laki-lakinya telah bekerja sebagai supir di area Donghu Scenic dan digaji lebih dari 2.000 yuan per bulan, sedangkan putrinya bekerja di sebuah perkantoran dengan upah 3.000 yuan per bulan.
Setiap orang punya cara tersendiri untuk memaknai hidup. Namun, apakah hidup hanya sebatas kepuasan diri untuk apa yang telah kita dapatkan?
Ataukah kita tetap berjuang seperti apa yang dilakukan Yu sepanjang hidupnya?
Sumber:http://news.liputan6.com/read/ 481228/ ajari-anak-hakikat-kerja-keras- jutawan-cina-jadi-tukang-sapu
Uang yang didapatkannya dari upah menyapu jalan tentu tidaklah sebanding dengan pendapatannya saat ini. Yu, yang juga dikenal sebagai pemilik puluhan apartemen, tersebut memiliki aset jutaan yuan yang sangatlah cukup untuk menopang semua kebutuhan hidupnya. Namun, Yu tak ingin terlena dengan apa yang dia miliki sekarang.
Alih-alih bermalas-malasan di rumah dan menghitung semua kekayaannya, Yu tetap memutuskan untuk bekerja sebagai pekerja kebersihan. Pekerjaan tersebut rupanya telah ia lakukan sejak tahun 1998. Semua itu dilakukannya bukan tanpa alasan. Yu tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya. Pada tahun 1980, ia hanyalah seorang petani sayur miskin di Hongshan, distrik Donghu, desa Huojiawan. Bersama suaminya, Yu harus mau bekerja keras untuk menghemat uang mereka.
Setelah bertahun-tahun bekerja dari fajar hingga senja, mereka berhasil menjadi keluarga pertama yang memiliki rumah 3 lantai. Kala itu, banyak orang yang datang ke Wuhan untuk mencari pekerjaan, dan banyak dari mereka yang membutuhkan tempat tinggal, sehingga Yu mulai menyewakan kamar cadangannya di rumahnya. Setiap kamar sewa menghasilkan sekitar 50 yuan setiap bulan.
Uang itu kemudian digunakan untuk membangun lebih banyak rumah dan menambah lantai. Setelah beberapa tahun, Yu dan suaminya memiliki tiga bangunan 5 lantai, yang sebagian besar disewakan. Beruntung lagi, sesuai dengan kebijakan penggantian dan pembangunan kembali lahan, Yu dan keluarganya mendapat kompensasi 21 apartemen dari pemerintah untuk seluruh rumah yang telah mereka bangun di Huojiawan.Kekayaan itu tak pelak menyilaukan mata Yu dan suaminya.
Ia yang sedari dulu telah bekerja keras tidak ingin kedua anaknya hidup berfoya-foya. Secara pribadi, Yu sangat menyayangkan sikap warga desanya yang sering menyia-nyiakan kekayaan mereka hanya untuk berjudi, minum, dan narkoba. Oleh karenanya, Yu bertekad akan mendidik anak-anaknya dengan memberi contoh yang baik.
Salah satunya dengan menjadi tukang sapu jalan.Ia bekerja sejak pukul 3 pagi selama enam hari dalam seminggu. Untuk membersihkan jalanan sepanjang 3 km, ia bahkan harus menghabiskan 6 jam sehari. Yu tidak hanya menyapu jalan, tetapi juga membersihkan semua tong sampah yang terdapat di sepanjang jalan.
"Saya ingin memberi contoh untuk putra dan putri saya. Seseorang tidak bisa hanya duduk di rumah dan 'menggerogoti' semua kekayaannya," kata Yu ketika ditanya perihal alasannya bekerja sebagai pembersih jalan, sebagaimana dilansir Oddtycentral (10/1). Yu juga memperingatkan kedua anaknya untuk tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Jika tidak, ia mengancam untuk menyumbangkan semua hartanya pada negara. Kini, anak laki-lakinya telah bekerja sebagai supir di area Donghu Scenic dan digaji lebih dari 2.000 yuan per bulan, sedangkan putrinya bekerja di sebuah perkantoran dengan upah 3.000 yuan per bulan.
Setiap orang punya cara tersendiri untuk memaknai hidup. Namun, apakah hidup hanya sebatas kepuasan diri untuk apa yang telah kita dapatkan?
Ataukah kita tetap berjuang seperti apa yang dilakukan Yu sepanjang hidupnya?
Sumber:http://news.liputan6.com/read/
+++PLEASE LIKE AND SHARE ++++
Wednesday, March 6, 2013
Alkisah, ada seorang bernama Adiba. Setiap kali marah, ia akan pulang ke rumah untuk mengelilingi rumah dan tanah miliknya sebanyak tiga kali putaran. Seiringnya berjalannya waktu, rumah dan tanah Adiba semakin luas dan banyak. Namun kebiasaan lamanya ketika merasa marah tetap Adiba lakukan. Ia masih saja mengelilingi seluruh rumah dan tanah miliknya. Meski harus berkeringatan, Adiba tidak peduli.
Suatu hari, sang cucu bertanya kepada Adiba perihal kebiasaan si kakek yang dianggap agak aneh. “Ada apa sih, Kek, kok Kakek rela lari-lari begitu? Apa nggak capek, Kek?”
Adiba menjawab, “Kakek sudah jalanin kebiasaan ini sejak muda, Cu. Setiap kakek bertengkar dengan orang lain, berdebat, ataupun marah, kakek akan mengelilingi tanah dan rumah sendiri sebanyak tiga kali. Saat berlari, kakek berpikir dan bertanya pada diri sendiri, ’rumahku masih begitu kecil, tanah juga masih sedikit, bukankah aku seharusnya tak punya waktu untuk marah pada orang lain?’ Dengan memikirkan pertanyaan itu, rasa marah kakek jadi hilang. Jadi, kakek bisa punya waktu yang lebih banyak untuk bekerja dan belajar.”
”Oh, begitu. Terus, sekarang kan kakek sudah kaya, kok masih saja berlari-lari mengelilingi rumah?” lanjut si cucu. Dengan tersenyum, Adiba menjawab, “Karena kakek masih bisa mendapat manfaat yang sama. Selagi berlari, kakek sekarang berpikir, ’rumahku sudah begitu besar, tanah juga begitu banyak, mengapa mempersoalkan hal kecil itu dengan orang lain?’ Setelah itu, marah kakek akan hilang.”
***
Rasa marah sesungguhnya adalah perasaan yang wajar kita rasakan, tapi yang menjadikannya tidak wajar apabila amarah itu tetap terpendam di hati kita dan malah mempengaruhi suasana hati kita sepanjang hari dan akhirnya berimbas ke kinerja kita secara keseluruhan. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menemukan satu cara efektif yang mampu menghilangkan amarah ketika kita merasakannya.
+++ PLEASE LIKE AND SHARE ++++
SUMBBER : http://www.andriewongso.com
Saya adalah seorang pramugari biasa dari china Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun
dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya
melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada
tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatupengalaman yang membuat
perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari
inijadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang
sangat penuh pada hari ini.
Diantara penumpang saya melihat
seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua, dan terlihatjelas
sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat
menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman
sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang
untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai
menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek
tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan
memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakan mau minum
apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak
membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga
ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang
pembagian makanan kami melihat dia duduk dengantegang ditempat duduknya,
kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala
pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara
kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takutapakah
dipesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam
pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak
sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ketoilet,
pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat diamelirik
kepenumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya
kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia. Ternyata gerakan kami
mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah,
kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan
dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada
kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya,
katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan
meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni
malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya
perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru
naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta
minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak
dan dianggap sebagai pengemis.
Saat kami membujuk dia terakhir
dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami
menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia
mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja
dikota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking. Anak sulung
yang bekerja dikota menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersama
dikota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota
akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak
menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua
tersebut naik mobil megitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan
menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking, tetapi ditolak
olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia
bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui
dengan anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang
disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan
dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi
dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruhditempat bagasi ubi
tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah
hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut diatas
bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia
meletakkan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus
menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima
kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidakmau makan, meskipun kami
mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak
mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan
kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya dikantong tersebut. Dia
mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia
ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata
seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan
makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan
yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh
didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut,
tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki
bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya
sendiri , perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya
terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya
kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat
semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di
pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia
melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup
saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi –
tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik
yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah
meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini
kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan
sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada
kalian.
Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah
dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu
memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan
membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun
bekerja sebagai pramugari, beragam – beragam penumpang saya sudah
jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum
pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas
kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan,hanya
menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun
tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambilmerangkul
karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan
makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makananyang
bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan
menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.
Janganlah
kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap
menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
+++ PLEASE LIKE AND SHARE ++++
SUMBER :http://www.facebook.com/ SL.Buku
Tuesday, March 5, 2013
Sebuah kisah nyata perjuangan seorang wanita
yang berprofesi sebagai guru yang rela berkorban demi kemajuan anak
didiknya. Wanita ini tinggal di desa kecil di propinsi Gan Shu. Awalnya
dia bukan pelacur, setiap penduduk di
desa tersebut tidak mengerti kenapa seorang gadis secantik Xia yang
mempunyai paras tubuh yang indah dan rupa yang menawan tidak melakukan
pekerjaan seperti gadis-gadis lainnya. Karena Xia menolak akan hal ini,
ayah Xia selalu menghukum dia. Suatu hari Xia mendengar bahwa sebuah
sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru Xia langsung dengan
sukarela menjadi seorang guru dengan tanpa imbalan.
Pas hari
pertama Xia masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget
dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka. Sejak saat itu Kelas
selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Kelas mereka lebih
layak untuk disebut sebagai tempat penampungan daripada bangku bangku
sekolah yang normal. Dalam kondisi kelas yang sekarat ini, Xia
mengajarkan beribu ribu kata kata chinese dan pengetahuan laennya kepada
murid muridnya Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka semua
murid tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Lalu kepala sekolah datang
ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan walikota yang mengurus
budget bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang utk membetulkan
sekolah mereka akan kepala sekolah kembali dengan tangan kosong.
Kepala sekolah mengatakan kepada Xia bahwa walikota akan memberikan
uang kalo hanya Xia yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya
secara personal, Xia yang tidak pernah keluar dari desa dan meninggalkan
rumah nya dan tidak pernah bertemu dengan walikota sebelumnya, telah
memutuskan untuk berangkat dari rumah untuk mengunjungi sang walikota.
Sebelumnya Xia kwatir kalo kunjungan dia akan mengacaukan suasana, akan
tetapi dia tetep memutuskan pergi demi murid murid nya.
Xia
berjalan lebih dari 10 kilo untuk ke kantor sang walikota setelah
sampai, Xia duduk di depan kantor yang bagus di ruangan sang walikota.
Setiba nya di kantor, sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan
sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan mununjukan tangannya ke
sebuah ruangan dan mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut. Kalau
kamu mau, kamu ikuti aku” Xia melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang
besar, ranjang tersebut lah yang telah merenggut keperawanan Xia, Sang
walikota telah memperkosa Xia. Darah segar dari keperawannan nya telah
meninggalkan bekas dan jejak di sprei darah merah tersebut menjadi lebih
merah daripada warna bendera national China. Xia tidak menangis sedikit
pun yang ada dipikirannya adalah berpuluh puluh mata murid muridnya
yang akan kecewa kalau tidak ada kelas buat mereka belajar.
Setelah itu Xia bergegas balik ke rumah yang gelap dan tidak memberi
tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, para
penduduk membeli kayu dan membetulkan kondisi kelas. Akan tetapi kala
ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Xia
mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah
sekolah yang bagus buat mereka. Dalam kurang lebih 6 bulan, kepala
sekolah mengunjungi walikota 10 kali akan tetapi tetep tidak diberikan
dana yang dijanjikan kepada mereka. Hanya walikota lah yang tau apa yang
telah terjadi pada Xia akan tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang
itu.
Pada saat semester baru berganti, banyak murid yang tidak
bisa melanjutkan sekolah nya karena biaya dan mereka harus membantu
orangtuanya untuk bekerja. Jumlah muridnya berkurang dan terus bekurang.
Xia sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Xia mengetahui bahwa
harapan murid muridnya telah hilang bagaikan asap. Dia lalu kembali ke
kamarnya. Xia membuka bajunya, dan melihat tubuh telanjangnya di depan
cermin. Xia bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah untuk mewujudkan
impian dari murid muridnya untuk bisa kembali sekolah. Sahabat
anehdidunia.blogspot.com, Xia tahu semua gadis dari desa bekerja sebagai
pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia
untuk mendapatkan uang. Dia membersihkan dirinya dan mengucapakan
selamat tingal kepada kepala sekolah, ayah dan sekolah.
Dia
mengikat rambutnya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika
dia berangkat ke kota, ayahnya tersenyum bangga akan tetapi kepala
sekolah menangis sedih akan pilihan yang Xia lakukan. Di dalam glamor
kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia menderita, dalam benak
pikirannya, hanya ada sebuah kelas yang hancur dan keprihatian dan
kesedihan dan kekecewaan expressi dari murid-muridnya. Xia masuk ke buat
salon, berbaring di ranjang yang kotor dan menderita kerja kotor yang
kedua di dunia percabulan. Malam itu di dalam diary nya Xia menulis
“Sang walikota tidak bisa dibandingakan dengan tamu pertama nya lebih
parah dan lebih kejam akan tetapi paling tidak tamu nya telah membayar
dan memberi uang”
Xia mengirimkan semua uang penghasilannya
kepada kepala sekolah dengan mengirit irit biaya untuk hidup nya dengan
harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala
sekolah menerima uang tersebut dan mengikuti untuk menggunakan uang utk
membangun sekolah. Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang
tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa didapat dari donasi
dari organisasi social. Akan tetapi seiring waktu, penduduk mengetahui
bahwa sumber dana dari seorang mantan guru yang bernama Xia. banyak
reporters yang ingin meliputi berita ini akan tetapi ditolak oleh Xia
dengan alasan bahwa dia hanya seorang pelacur biasa.Dengan uang
tersebut, sekolah telah berubah drastis. Bulan pertama, ada papan tulis
baru. Bulan ke dua, ada bangku kayu dan bangku. Bulan ketiga, setiap
murid mempunyai buku masing masing. Bulan ke empat, setiap murid
mempunyai dasi masing-masing. Bulan ke lima, tidak ada seorang murid pun
yang datang ke sekolah tanpa alas kaki.
Bulan ke enam, Xia
kembali mengunjungi sekolah Xia disambut dengan gembira dan para murid
menyapa "Guru, kamu telah kembali guru, kamu cantik sekali” Melihat
kegembiraan dari para murid muridnya, Xia tidak berkuasa untuk menangis.
Tidak peduli berapa banyak air mata yang di teteskan nya dan berapa
banyak derita, keluh kesan dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan,
Xia merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang
dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Xia lihat
saat itu. Setelah beberapa hari di rumah, Xia kembali ke kota. Pada
bulan ke tujuh, sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru. Pada
bulan ke delapan, sekolah membangun lapangan basket, pada bulan ke
sembilan, setiap murid mempunya pensil yang baru. Pada bulan ke 10,
sekolah mempunya bendera nasional sendiri, setiap murid bisa menaikan
bendera setiap hari nya.
Hingga suatu waktu Xia dikenalkan
kepada seorang businessman. Sang pengusaha luar asing bersedia membayar
3000 rmb buat satu malam. Dengan pikiran yang lelah yang telah dia lalui
beberapa tahun lalu, Xia dengan lelah menuju hotel sang pengusaha
asing. Dia bersumpah bahwa itu adalah pekerjaan kotor yang terakhir bagi
dia dan setelah itu dia akan kembali ke desa dan bersama sama murid
muridnya di sekolah. Akan tetapi nasib berkata lain sungguh tragis telah
terjadi malam itu dimana Xia bersumpah untuk terakhir kali nya, Xia di
diperkosa dan disiksa hingga terbunuh oleh 3 pengusaha asing tersebut.
Xia baru saja bertambah umur nya menjadi umur 21 tahun. Xia saat itu
juga meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir, yaitu untuk
membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh
murid-murid.
Seorang pelacur telah meninggal dunia, keheningan
yang di penuhi air mata. Saat itu langit kota ShenZen masih berwarna
biru seperti lautan. Para murid-murid, guru-guru dan beberapa ratus
penduduk menghadiri acara pemakaman Xia di desa kecil bernama “GanShu”
Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih dari Xia dalam
foto itu Xia mengikat rambutnya dengan senyuman bahagia. Kepala sekolah
membuka diary Xia dan membacakanya di depan para murid murid nya dan Xia
menulis “Sekali melacur, bisa membantu satu anak yang tidak bisa
sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan, bisa membangun sebuah sekolah
yang telah hilang harapan. Bendera setengah tiang dikibarkan.
+++ SHARE AND LIKE+++
+++ SHARE AND LIKE+++
Tokyo, - Menyedihkan! Seorang ayah mati kedinginan demi melindungi
putrinya dari cuaca dingin parah yang melanda Jepang utara. Anak
perempuan berumur 9 tahun itu kini sebatang kara karena ibunya telah
meninggal dua tahun lalu.
Mikio
Okada meninggal saat mencoba melindungi anak semata wayangnya, Natsune
dari terpaan angin dingin berkecepatan 109 km per jam, di saat suhu
udara anjlok ke angka minus enam derajat Celsius.
Okada
termasuk satu di antara 9 orang yang tewas dalam berbagai insiden
terkait badai salju yang melanda Pulau Hokkaido. Seperti diberitakan
kantor berita AFP, Senin (4/3/2013), jasad Okada ditemukan oleh tim
penyelamat yang mencarinya setelah menerima laporan dari kerabat
keluarga yang khawatir akan mereka.
Saat ditemukan di depan
sebuah bangunan gudang di Yubetsu, Hokkaido pada Minggu, 3 Maret pagi
waktu setempat, Natsune mengenakan jaket ayahnya dan berada dalam
pelukan ayahnya.
Diketahui bahwa pada Sabtu, 2 Maret sore,
Okada menjemput putrinya dari sekolah. Okada kemudian menelepon
keluarganya dan mengatakan bahwa truknya tak bisa berjalan karena
terjebak salju tebal.
Dia pun mengatakan bahwa dirinya dan
Natsune akan berjalan kaki untuk menuju rumah mereka. Keduanya ditemukan
pada Minggu (3/3) sekitar pukul 07.00, hanya sekitar 300 meter dari
truk mereka.
Menurut media Jepang, Yomiuri Shimbun, tim
penyelamat mendapati Okada tengah memeluk erat putrinya. Dia menggunakan
tubuhnya dan tembok sebuah gudang untuk melindungi anak gadisnya. Okada
bahkan melepas jaketnya dan memakaikannya pada bocah itu.
Saat
ditemukan, Natsune menangis lemah dalam pelukan ayahnya. Gadis kecil
itu pun dilarikan ke rumah sakit dan diketahui tidak mengalami luka-luka
yang serius.
Menurut Yomiuri, ibu Natsune meninggal dua tahun
lalu karena menderita sakit. Para tetangga menyebut Okada sebagai ayah
yang sangat menyayangi putrinya. Dia kerap memilih terlambat bekerja
demi bisa menikmati sarapan pagi bersama putrinya.
++ LIKE AND SHARE IT +++
3:06 AM
PERMALINK
Monday, March 4, 2013
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.
Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.
“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.
Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”
Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.
Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”.
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.
Teman-teman yang luar biasa,
Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.
Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!
Salam sukses luar biasa!!!
Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.
“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.
Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. “Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”
Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”
Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”
Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.
Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”.
Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.
Teman-teman yang luar biasa,
Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.
Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.
Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!
Salam sukses luar biasa!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)








