Namun kekhawatiran itu pupus bahkan saat Jessica masih berusia lima bulan. Saat bayi seusianya mulai belajar merangkak, Jessica melakukan gerakan lain. Ia belajar bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggeser badannya. Saat usianya 18 bulan ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan. Hal inilah yang meyakinkan kedua orangtuanya bahwa kelak setelah dewasa Jessica akan tumbuh menjadi manusia mandiri meski tak memiliki kedua tangan.
Perkembangan berikutnya makin menakjubkan. Saat berusia tiga tahun ia sudah mulai belajar membersihkan badan dan makan sendiri menggunakan jari-jari kakinya. Bahkan sekarang ia bisa memasang lensa kontaknya menggunakan jari-jari kakinya, sesuatu yang sulit dibayangkan. “Kecacatan saya sempat membuat saya frustrasi seperti ketika saya berusaha mengikat tali sepatu,” ujar Jessica. “Tetapi saya bangga akan prestasi yang sudah saya raih,” katanya lagi.
Lulus SMA Jessica melanjutkan sekolah ke University of Arizona dengan mengambil studi bidang psikologi. Selama kuliah ia memiliki banyak kegiatan ekstra kurikuler. Salah satunya dengan mendirikan perkumpulan Taekwondo di bawah naungan American Taekwondo Association (ATA) di kampusnya. Ia sendiri ikut mengajar. Jessica kemudian menjadi orang tanpa tangan pertama yang meraih ban hitam dari ATA.
Yang lebih mengejutkan saat ia belajar menyetir mobil. Tetapi itu bukan sensasi pertamanya. Ketika ia memutuskan untuk belajar menjadi pilot, hampir tak ada yang percaya ia akan berhasil. Namun kekhawatiran orang itu tak membuatnya mundur, ia justru tertantang untuk membuktikannya. “Ada dua kata yang saya buang dari kamus hidup saya,” kata Jessica. “Yaitu ‘I can’t’,” lanjutnya. Kalimat “Saya tak bisa” memang ia buang jauh-jauh. “Karena jika sekali saja kita mengucapkannya, kita akan gagal,” sebutnya.
Setelah tiga tahun belajar, tahun 2008 ia mendapat lisensi pilotnya. Tahun itulah untuk pertama kalinya ia melakukan terbang solo. Jessica masuk ke dalam kokpit dengan mengenakan T-shirt bertuliskan “Look Ma, no hands!”. Ia berhasil terbang sendirian tanpa dibantu instrukturnya. Keberhasilan itu membuahkan rekor Guinness World Record sebagai orang pertama yang menerbangkan pesawat hanya menggunakan kedua kaki.
Menurutnya kesuksesannya itu karena ia punya mantra yang sering ia ungkapkan di atas podium saat berbicara di berbagai seminar, yaitu “Think outside the shoe”. Mantra itu boleh dibilang plesetan dari ungkapan “Think outside the box” yang menggambarkan seseorang tak perlu mengikuti hal-hal yang umum dilakukan. Untuk melakukan sesuatu kerap dibutuhkan hal yang melenceng dari kebiasaan.
Tentu saja mantra itu hanya berlaku bagi orang yang memiliki fisik seperti dirinya yang tak memiliki kedua tangan. Dengan membiarkan kaki berada di dalam sepatu, justru dirinya jadi tak bisa melakukan apa-apa. Karena itu, “Think outside the shoe”, berpikirlah di luar sepatu. Dengan kaki telanjang, jari-jari kakinya bisa menggantikan peran tangan bagi orang normal. Dan ternyata dia bisa.
Sumber : http://www.andriewongso.com/articles/details/9026/Pilot-Tanpa-Sepasang-Tangan
