Friday, March 29, 2013

Posted by vaneskho | File under : , ,

Tiga karung beras, kisah nyata, keluarga yang sangat miskin, isnpirasi, motivasi
Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah


kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak

laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak

laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.


Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah

sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.


Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga karung beras  untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidakmungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.



Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah danmembantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata: "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamuharus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu,


pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolahnanti berasnya mama yang akan bawa kesana".


Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah,mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sanganak ini dipukul oleh mamanya.


Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir danmerenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.


Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunyadatang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.


pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya danmengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian parawali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disiniisinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat


penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kalimeminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.


Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalamkantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras darikantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:


"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarinitu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduliberas apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisahjangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisamatang sempurna.


Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya"


Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kamisemuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu danberkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebutakhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawaskembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mamakenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama.Bawa pulang saja berasmu itu !".


Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebutdan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat darimengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidakbisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai,menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras danmembengkak.


Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematikstadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocoktanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untukmembantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolahlagi."


Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampungsebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.


Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergikekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelankembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yangterkumpul diserahkan kesekolah.


Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupunmulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata:"Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisadiberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak danberkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolahanaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akanmengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibupengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diamkepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebutselama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulusmasuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.


Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anakini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyakmurid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang


diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.


Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisahsang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.


Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh harudan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naikkeatas mimbar.



Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang danmelihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan


berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...

+++PLEASE SHARE AND LIKE JIKA BERMANFAAT +++

0 comments:

Post a Comment