Wednesday, April 17, 2013

Posted by vaneskho | File under :

taspirin , bocah kecil 12 tahun, warga dusun pesawahan
Ketika jutaan anak-anak seusianya bersekolah, bermain, dan disayang orangtua, Tasripin (12) terpaksa menjadi buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya. Peran kepala rumah tangga kini disandangnya.

Tasripin mengambil alih tanggung jawab itu setelah ditinggal kedua orangtuanya. Kemiskinan kian menyudutkannya. Bocah itu tak lagi menikmati waktu, dan menguapkan cita-citanya menjadi guru.

Keseharian Tasripin, warga Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sudah dimulai saat azan subuh baru saja berkumandang. Ia memulai hari dengan menanak nasi di dapur yang gelap dan lembab. Ketiga adiknya dibangunkan, lalu satu per satu dimandikan.

”Yang paling kecil yang rewel. Nangis terus. Sering tak mau dimandikan jika sedang ingat bapak. Jika ada uang, saya kasih, baru diam,” tutur Tasripin, Sabtu (13/4), di rumahnya, yang jauh dari standar kelayakan di kaki Gunung Slamet.

Beda dengan rumah sebelahnya yang berlantai keramik dan bertembok, rumah yang ditempati Tasripin dan adik-adiknya terbuat dari papan berukuran sekitar 5 meter x 6 meter. Hanya dua kursi panjang dan satu meja kayu yang menjadi perabot di ruang yang lantainya beralaskan semen pecah-pecah itu. Meski hari sudah mulai siang, ruangan itu pengap.

Tasripin dan ketiga adiknya, Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4), tidur di dipan kayu beralaskan karpet plastik. Saat dingin menyergap, mereka hanya berselimutkan sarung. Lingkungan yang jelas tidak sehat bagi bocah-bocah itu.

Setelah memandikan ketiga adiknya di pancuran yang mengalir alami di belakang rumah, Tasripin menyuapi Daryo, si bungsu. Pagi itu, mereka sarapan mi instan.

”Ini sedang ada rezeki, Pak. Jika enggak ada uang, ya nasi putih sama kerupuk, kadang cuma sama garam,” ujar Tasripin. Ia putus sekolah sejak kelas tiga sekolah dasar (SD) sebab harus mengurus ketiga adiknya itu.

Satinah, ibu mereka, meninggal dua tahun lalu, di usia 37 tahun, akibat terkena longsoran batu saat menambang pasir di dekat rumahnya. Kuswito (42), ayah mereka, sudah setengah tahun terakhir ini merantau ke Kalimantan bekerja di pabrik kayu bersama Natim (21), anak sulungnya.

Jadi buruh tani

Meski yatim dan jauh dari ayahnya, Tasripin berusaha mandiri. Ia cekatan mengurusi adik-adiknya. Untuk makan  sehari-hari, dia bekerja membantu tetangganya menjadi buruh tani, bekerja di sawah, mengeringkan gabah, hingga mengangkut hasil panen turun. Ia tidak mengeluh meski harus naik bukit sejauh 2 kilometer dari sawah ke rumah juragannya. Tasripin berangkat ke sawah pukul 07.00 dan pulang pukul 12.00. ”Kadang dibayar beras, kadang uang Rp 10.000. Dicukupin buat makan dua kali sehari. Harus disisain buat jajan adik-adik,” jelasnya.

Sering kali ia terpaksa berutang. Beruntung, tetangganya memaklumi kondisi mereka. ”Kami paham kondisi mereka. Jika Tasripin beberapa hari tidak ada pekerjaan, tetangga atau bibinya yang kasih makan,” ujar Salimudin (59), pemilik warung tempat Tasripin biasa membeli bahan makanan.

Selain memasak, Tasripin juga mencuci pakaian, menyapu rumah, hingga terkadang membetulkan talang air rumahnya yang bocor. Meskipun bekerja, dia selalu memantau ke mana adik-adiknya bermain. Jika sore menjelang dan adiknya belum pulang, ia akan mencari mereka hingga ke hutan.

Ayahnya beberapa kali mengirim uang melalui bibi Tasripin. Uang itu untuk membayar listrik dan kebutuhan mendesak, seperti jika ada adiknya yang sakit. Akibatnya, sekolah menjadi barang mahal bagi mereka. Dari keempat anak itu, hanya Daryo yang bersekolah di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tasripin sebenarnya masih terlilit biaya sekolah lebih dari Rp 100.000 di SD Negeri Sambirata 3. Kedua adiknya, Dandi dan Riyanti, tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek teman-temannya. Riyanti, adik perempuannya, sakit. Ada luka di kepalanya.

Meski miskin dan tidak merasakan pendidikan, Tasripin merasa bertanggung jawab pada akhlak adik-adiknya. Tiap sore dia mengajari adik-adiknya membaca Al Quran. Dengan sabar, dia juga mengajak adiknya shalat dan mengaji di mushala depan rumahnya. Saat malam kian larut, ia mulai menidurkan adiknya. Dinginnya angin gunung yang menelusup melalui celah papan rumahnya dilawan Tasripin dengan memeluk erat adik-adiknya yang lelap.

Terpencil dan tertinggal

Potret kehidupan Tasripin tak lepas dari kemiskinan yang membelenggu keluarganya. Ini diperparah kondisi Dusun Pesawahan yang terpencil. Saat masih bersekolah, Tasripin harus berjalan kaki sekitar 3 kilometer melintasi jalan berbatu, perbukitan, dan hutan setiap hari.

Kepala Dusun Pesawahan Warsito membenarkan, banyak anak putus sekolah dan tak menuntaskan pendidikan dasar sembilan tahun di dusunnya. Selain faktor jarak, kemauan untuk belajar warga dusun itu juga masih rendah. Bahkan, di dusun itu hanya ada dua lulusan sekolah menengah atas dan dua lulusan sekolah menengah pertama. ”Ratusan warga masih buta huruf,” kata Warsito.

Dusun Pesawahan berjarak sekitar 30 kilometer dari Purwokerto, pusat kota Banyumas. Dusun itu terdiri atas 103 rumah dengan penduduk berjumlah 319 jiwa.

Bupati Banyumas Achmad Husein mengaku khawatir kisah Tasripin hanya fenomena gunung es di Banyumas. Aparatur pemerintah harus peduli.

Sumber.kompas.com

Wednesday, April 10, 2013

Posted by vaneskho | File under :


 Halaman Link Exchange  OTOMATIS ini adalah Halaman Tukar Link yang Sharing Informasi sediakan buat sahabat-sahabat dan para Blogger di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk mejalin persahabatan antara sesama bloger sekaligus dapat saling berbagi informasi. Di samping itu dengan saling tukar link kita dapat saling membantu meningkatkan rangking blog kita.



Tuesday, April 9, 2013

Posted by vaneskho | File under :


Penyesalan Seorang Wartawan Peraih Putlizer" (True Story), kevin carter, penyesalan memang datang terlambat, afrika selatan tahun 1994Foto di samping meraih penghargaan tertinggi Jurnalistik Pulitzer 1994 adalah tentang seorang gadis yang menangis kelaparan dan berusaha merangkak kelelahan menuju camp pengungsian PBB berjarak 1 Km dari tempatnya, dengan tanpa pakaian dan tulang kurus menonjol dimana-mana, sementara di belakangnya di bayang-bayangi burung pemakan bangkai yang sudah mencium bau kematian gadis kecil tersebut.

Foto tersebut diambil di Afrika Selatan oleh seorang wartawan bernama Kevin Carter, yang mendengar suara tangis anak tersebut, sempat menunggu selama 20 menit supaya burung pemakan bangkai itu pergi, tetapi akhirnya sekedar mengambil foto gadis itu karena burung tersebut tidak juga meninggalkan gadis tersebut, dan Kevin meninggalkannya begitu saja karena dia takut tertular penyakit dan sebagainya.

Tetapi, begitu foto tersebut di publikasikan, New York Times yang menerima foto tersebut segera menerima ribuan telepon menanyakan kabar gadis itu :

"Apakah dia mati?"

"Apakah bisa sampai ke penampungan PBB?"

"Apakah dimakan burung pemakan bangkai?"

"Bagaimana saya bisa menolong gadis tersebut?"

"Mengapa KEVIN tidak menolong anak gadis itu?"

2 bulan setelah menerima penghargaan tersebut, Kevin mati bunuh diri karena dihantui pemandangan tersebut. Dia tidak pernah berhenti menangis menyesali diri : "MENGAPA AKU TIDAK MENOLONG ANAK GADIS ITU???"

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Selagi masih ada kesempatan berbuat baik, marilah kita berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Jangan sampai kita menyesali diri karena kesempatan berbuat baik itu sudah tertutup.

Sumber: Ibu Subhadevi dan Internet

+++ PLEASE SHARE AND LIKE +++

Friday, March 29, 2013

Posted by vaneskho | File under :

Terima Kasih TUHAN ,  Apakah aku ditegur Tuhan? Apakah aku disentil olehNya
Sore, pulang kantor, seperti biasa aku menunggu bis didepan Chase Plaza, untuk membawaku pulang, bertemu dengan kedua anak-anakku yang masih berusia 2 tahun dan 9 bulan. Mikhail dan Fara namanya. Cuaca menggerahkan tubuhku.

Penat seharian kerja, dengan segala masalah yang ada selama bekerja. Sudah seminggu ini aku selalu lupa menanyakan keadaan kedua anakku Entah menanyakan sudah makan siang atau belum, bagaimana keseharian mereka, atau hanya sekedar memainkan telfon untuk mendengarkan suara sang buah hatiku, si sulung Mikhail yang sudah banyak bicara. Bahkan aku juga lupa bahwa saat ini kedua buah hati tercinta sedang sakit flu. Aku terlalu sibuk sehingga sempat melupakan mereka. Tapi ah, aku pikir aku meninggalkan buah hati bersama orangtuaku dan pengasuhnya. Jadi, untuk apa aku pusingkan akan hal itu? Jahatkah aku?

Aku rasa betul, aku jahat. Tapi aku lebih mementingkan pekerjaanku daripada keluargaku.

Aku termenung. Tadi pagi sebelum berangkat aku lagi-lagi lupa membekalkan suami dengan dua potong roti omelete kesukaannya. Aku juga lupa membekalkan teh hangat manis dimobilnya. Aku sempat merajuk gara-gara suamiku menanyakan sarapan rutinnya untuk dimobil. Aku kan cape Mas, aku kan harus siapkan bekal anak-anak sebelum mereka dititipkan ketempat Oma-nya. Aku kan harus selesaikan cucian sebelum aku mandi tadi pagi. Dan sejuta alasanku untuk tidak lagi dibahas masalah sarapan rutin mobil. Dan ini sudah terjadi selama satu minggu pula. Ah, aku juga melupakan kebiasaanku yang disukai suami, ternyata. Bahkan, aku lupa minta maaf dengan kelakuanku seminggu ini.

Bahkan, akupun lupa Shalat sudah seminggu ini !!! Alangkah ajaibnya diriku. Tapi kurasa Tuhan mengerti. Begitu pikirku selama dikantor. Dan akupun tenggelam dengan pekerjaanku dikantor.

Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5.25 sore, langit mendung, dengan udara lembab. Haus. Aku lupa minum sebelum pulang tadi. Mestinya aku sediakan segelas minum untuk bekalku diperjalanan. Aku membutuhkan 2 jam perjalanan dari kantor sampai rumahku di Bintaro. Lagi-lagi, alasan sibuk yang membuatku lupa membawa gelas hijauku yang dulu biasa "tidur" dalam tasku.

Pada saat itulah mataku tertuju dengan 2 orang kakak beradik, anak pengamen jalanan. Tidak beralas kaki, kotor dan kumuh. Usia mereka sekitar 4 dan 2 tahun. Mataku tertuju dengan sang adik. Wajahnya kuyu. Kotor dan diam. Terlihat wajah manisnya walaupun kurasa anak kecil itu tidak pernah mandi. Tidak beralas kaki. Terlihat ada luka ditelapak kakinya yang mungil, semungil telapak kaki buah hatiku Mikhail. Sang adik tertawa saat seorang wanita muda memberikan pecahan Rp. 2000 kepada kakaknya. Alangkah senangnya si kakak. Diberikan selembar kepada sang adik, dan sang adikpun menerima dengan hati riang. Dipandangnya uang lembaran Rp. 1000 itu sambil bernyanyi kecil. Ah, dia menyanyikan lagu masa kecilku dulu. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Aku membayangkan buah hatiku Mikhail menyanyikan lagu itu. Pasti tangannya tidak lepas dari pipiku, karena pada bait lagu "dor" buah hatiku selalu memukul pipiku.

Aku tersenyum pada si kecil. Suaranya. Ya, suaranya masih pula cadel. Tangan kanannya memegang lembaran seribuan, tangan kirinya memegang alat musik kecrekan dari tutup botol. Alangkah polos wajahnya. Sang kakak duduk ditrotoar sambil menghalau lalat yang berseliweran dikepala adik. Kutahu, pasti dia tidak keramas. Uh, mandi saja mungkin jarang apalagi mencuci rambut?

Tiba-tiba saja, waktu sudah menunjukkan pukul 5.35 sore. Belum gelap. Tapi aku tak tahu sudah berapa bis jurusanku yang terlewatkan karena kekhusyukanku memandang 2 bocah polos didepanku?. Aku rogoh dompetku. Duh, makin menipis. Aku harus beli susu sang buah hatiku yang kecil. Aku juga harus beli alat kosmetikku yang sudah hancur dimainkan anak sulungku. Pokoknya aku memang harus beli hari ini. Tapi pemandangan didepanku meluluhkan hatiku. Kuambil selembar duapuluh ribuan dan kuberikan kepada sang kakak. Terkejut, tentu saja. Sang adik tidak kalah terkejut. Sambil teriak, sang adik bertanya pada kakaknya: aku bisa makan hari ini ya kak ya. Hhh.. aku tersenyum pilu. Begitu bahagianya mereka menerima lembaran dariku.

Aku tegur kakaknya "kamu berdua belum makan?"
Pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kepala yang pelan. Saat itu juga aku menitikkan air mata. Aku kasihan sekali. Adiknya tidak memakai celana apapun. Bahkan aku bisa melihat bahwa adiknya seorang perempuan. Beberapa orang yang sedang menunggu bis, menjadikan percakapanku dengan bocah-bocah itu sebagai tontonan mereka. Beberapa ada yang memberikan selembar 5000an. Ah, Jakarta !

"Kamu mau makan? Mau saya belikan makanan?" Lagi-lagi pertanyaanku dijawab dengan sebuah anggukan kecil. Sang adik tersenyum kepadaku. Ah, polosnya senyuman itu. Tanpa beban. Tanpa arti. Tapi yang kutahu, senyuman itu senyuman bahagia dari kepolosannya. Aku ajak mereka ke sebuah warung nasi Padang didekat Chase Plaza, kantorku. Aku tawarkan makanan sesuka mereka. Raut wajah mereka memucat. Aku mengerti, mereka sudah lapar dan dahaga. Kupandangi mereka makan. Duh, lahapnya. Aku sendiri tidak makan seharian tadi, karena lagi-lagi kesibukanku dikantor. Apakah aku sudah sedemikian kuatnya sehingga aku mampu melupakan makan siang, mampu melupakan kewajibanku sebagai istri dan ibu dari 2 orang buah hati terkasih?

Aku ambil rokok mentholku, dan kuhisap perlahan. Duh, rokok tidak pernah lepas dariku, seakan dialah pasangan hidupku. Kuperhatikan sang adik. "Siapa nama kamu?" Jawaban malu-malu keluar dari bibirnya "Ririn, Ibu". Ah, namanya Ririn. Sebuah nama indah.

Tapi kenapa nasibnya tidak indah?. Aku melamun. Tiba-tiba saja aku jadi cengeng luar biasa. Airmataku menitik. Duh, sejahat inikah yang namanya Jakarta? Hingga mampu menciptakan dua orang bocah yang sedang makan dihadapanku menjadi pengamen jalanan dengan alat kecrekan seadanya ditengah-tengah gedung tinggi? Bahkan, celana dalampun mereka tidak punya. Mungkin punya, tapi cuma beberapa. Aku tidak menanyakan hal itu. Kurasa tidak perlu. Bodohnya aku !.

"Kamu rumah dimana?" Aku tidak mendapatkan jawaban. Hanya gelengan kepala si kecil. Ah, mereka tidak punya rumah. Rumah mereka di bedeng kardus, dekat stasiun Senen. "Jalan kaki dan numpang bis dari Senen untuk ngamen" kata sang kakak. Aku melamun. Kuhisap rokokku dalam-dalam. Rumah kardus? Pengap? Tanpa orang tua? Nyamuk? Penyakit? Kotoran dimana-mana? Adakah yang peduli dengan masa depan Ririn kecil? Adakah yang peduli? Kenapa mereka ada di Jakarta? Kenapa bisa bertemu denganku disini?

Tiba-tiba saja lamunanku buyar. "Ibu, terima kasih kami sudah makan enak".

Mataku berkaca-kaca. "Ya, sama-sama. Semoga kamu kenyang dan senang" jawabku berat. Ririn kecil tersenyum. Kurasa ia kekenyangan. Keringat didahinya berbicara. Lalu ia mulai memainkan kecrekan gembelnya. Bunyinya tidak beraturan. Tidak ada nada sama sekali. Hanya suara cadelnya yang membuatku tersenyum. Aku berkaca-kaca. Senangnya bisa memberikan arti buat mereka. "Ibu, jangan melamun. Aku mau nyanyi buat Ibu". Ah, menyanyi? Buatku? Apa istimewanya aku?. Aku tertegun. Suara cadel itu. Suara polos itu. Mereka menyanyikan sebuah lagu untukku. Aku tidak mengerti lagunya. Tapi terdengar indah ditelingaku. Ah, aku diberi hadiah: lagu !.

"Sekarang kamu berdua pulang. Masih ada yang merindukan kamu berdua. Ini bekal buat dijalanan". Aku berikan selembar duapuluh ribuan, seliter air mineral, roti manis dan sandal buat kedua bocah itu. Kebesaran. Tapi tidak apa. Mereka senang sekali memakai sandal baru. Aku pandangi kedua bocah dengan senyum. Mereka berlarian mengejar bis. Entah kemana lagi mereka pergi. Mencari uang lagikah? Atau pulang kerumah kardus mereka di pinggiran stasiun Senen seperti ucapan mereka tadi? Aku terharu, air mataku menetes. Ah Jakarta... jahat sekali kamu.

Sudah jam 7 lewat 10. Aku pasti terlambat sekali sampai rumah ibuku. Aku harus menjemput buah hatiku dan setelah itu pulang kerumahku. Aku duduk dalam bis. Terdiam. Aku lagi-lagi meneteskan airmata. Apakah aku ditegur Tuhan? Apakah aku disentil olehNya? Mata polos itu. Mata polos itu menegurku, Tuhan.


Aku lupa bersyukur dengan apa yang telah diberikanNya untukku. Aku lupa dengan anak-anakku. Aku lupa dengan suami dan tanggung jawabku sebagai ibu dan istri. Mata Ririn kecil menusukku tajam. Aku ditegur olehnya. Oleh mata kecil polos tanpa duka itu.

Fara kecil tertidur dipangkuanku. Mikhail, buah hatiku yang sulung dengan mesra mem ainkan rambut Papanya. "Papa, hari ini aku sudah bisa belajar mewarnai. Hari ini aku tadi makannya banyak. Aku tadi mau minum obat. Aku hari ini jadi anak Papa yang pintar". Celotehannya yang cadel membuatku tersenyum berkaca-kaca. "Mikhail enggak mau cerita dengan Mama?" tanyaku. "Mikhail enggak mau cerita dengan Mama. Mama kan mama yang sibuk". Bahkan si sulungpun kini sudah mulai menjauh dariku. Dia malah lebih sayang dengan Papanya. Suamiku. Duh, rasanya seperti tertusuk jarum. Sakit. Tapi aku diam. Ini memang semua salahku.

Tertidur. Mikhail dan Fara tertidur sudah. Tanggapan akan ceritaku dari suami, hanya tersenyum. Bijaksana sekali. "Itulah teguran Allah untukmu. Maka bersujudlah. Mohon ampun padaNya". Malam itu juga aku Shalat. Memohon ampun pada yang Kuasa atas kemalasanku sebagai Ibu. Mohon ampun telah melupakanNya.

Kupandang kedua wajah polos buah hatiku tercinta. Pulas. Tampak genangan liur dibantal mereka. Far a tersenyum. Buah hati kecilku itu kalau tidur memang suka tersenyum kecil. Sayangnya Mama... 

Setetes air mata kembali mengalir dipipiku. Entah siapa kedua bocah yang kutemui sore tadi sepulang kantor, entah siapa Ririn kecil yang memandangku polos, entah siapa yang telah menyanyikan sebuah lagu untukku disebuah warung nasi. Yang aku tahu, mata lugu itu telah menegurku dengan sangat tajam. Terima kasih Allah, telah mengirimkan dua bocah kecil, miskin tiada arti, untuk merubah hidupku. Mungkinkah mereka Engkau kirim untukku?

+++PLEASE LIKE AND SHARE JIKA BERMANFAAT+++
Posted by vaneskho | File under : , ,

Tiga karung beras, kisah nyata, keluarga yang sangat miskin, isnpirasi, motivasi
Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah


kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak

laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak

laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.


Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah

sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.


Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga karung beras  untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidakmungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.



Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah danmembantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata: "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamuharus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu,


pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolahnanti berasnya mama yang akan bawa kesana".


Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah,mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sanganak ini dipukul oleh mamanya.


Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir danmerenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.


Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunyadatang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.


pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya danmengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian parawali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disiniisinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat


penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kalimeminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.


Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalamkantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras darikantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:


"Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarinitu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduliberas apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisahjangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisamatang sempurna.


Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya"


Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kamisemuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu danberkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebutakhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawaskembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mamakenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama.Bawa pulang saja berasmu itu !".


Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebutdan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat darimengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidakbisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai,menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras danmembengkak.


Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematikstadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocoktanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untukmembantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolahlagi."


Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampungsebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.


Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergikekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelankembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yangterkumpul diserahkan kesekolah.


Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupunmulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata:"Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisadiberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak danberkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolahanaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akanmengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibupengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diamkepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebutselama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulusmasuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.


Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anakini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyakmurid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang


diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.


Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisahsang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.


Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh harudan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naikkeatas mimbar.



Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang danmelihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan


berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...

+++PLEASE SHARE AND LIKE JIKA BERMANFAAT +++

Thursday, March 28, 2013

Posted by vaneskho | File under :


Saat Abraham Lincoln (1809-1865) masih menjadi pengacara muda, ia sering berkonsultasi dengan pengacara lain tentang kasusnya.  Suatu hari, ia duduk di ruang tunggu untuk jumpa seorang pengacara senior. Tapi ketika tiba waktunya, pengacara itu hanya melihat Lincoln sekilas dan berteriak, "Apa yang dia lakukan disini? Singkirkan dia! Aku tidak akan berurusan dengan seekor monyet kaku!"  Lincoln ber pura-pura tidak mendengar, walaupun dia tahu kalau hinaan itu disengaja. Biarpun malu, dia tetap bersikap tenang.Saat Abraham Lincoln (1809-1865) masih menjadi pengacara muda, ia sering berkonsultasi dengan pengacara lain tentang kasusnya.

Suatu hari, ia duduk di ruang tunggu untuk jumpa seorang pengacara senior. Tapi ketika tiba waktunya, pengacara itu hanya melihat Lincoln sekilas dan berteriak, "Apa yang dia lakukan disini? Singkirkan dia! Aku tidak akan berurusan dengan seekor monyet kaku!"

Lincoln ber pura-pura tidak mendengar, walaupun dia tahu kalau hinaan itu disengaja. Biarpun malu, dia tetap bersikap tenang.

Ketika pengadilan berlangsung, Lincoln tetap diabaikan dan pengacara yang telah menghina Lincoln dengan kajamnya, ternyata bisa membela kliennya dengan brillian.

Penanganannya atas kasus itu membuat Lincoln terpesona. Katanya dalam hati,"Nalarnya sangat bagus. Argumennya tepat dan sangat lengkap. Aku akan pulang dan lebih giat belajar hukum lagi. "

Waktu berlalu...Lincoln menjadi presiden Amerika Serikat pada bulan Maret 1861. Diantara kritikus utamanya, terdapat Edwin M. Stanton, pengacara yang pernah menghinanya dan melukai hatinya begitu dalam. Namun Lincoln mengangkatnya diposisi penting sebagai Sekretaris Perang.

Ia tidak pernah lupa bahwa Stanton adalah pengacara berotak cerdas, yang amat dibutuhkan negaranya.

Saat Lincoln meninggal, Stanton berkata, "Dia merupakan mutiara peradaban."

Hanya seseorang yang berkarakter dan mau memaafkan seperti Lincoln, dapat bangkit dan berhasil diatas penghinaan!

Maka, jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak. Pilih untuk tetap berbuat baik dan belajarlah memaafkan. Jadikan"sampah" sebagai "pupuk" atau "bahan bakar" untuk maju, baik di lingkungan keluarga, ditempat kerja ataupun di lingkungan tempat tinggal kita.

+++ PLEASE SHARE AND LIKE  JIKA BERMANFAAT+++

Saturday, March 23, 2013

Posted by vaneskho | File under :

Nama lelaki itu Derek Redmond, seorang atlet pelari olimpiade asal Inggris. Impian terbesarnya ialah mendapatkan sebuah medali olimpiade, -apapun medalinya-. Derek sebenarnya sudah ikut di ajang olimpiade sebelumnya, tahun 1988 di Korea. Namun sayang beberapa saat sebelum bertanding, ia cedera sehingga tak bisa ikut berlomba. Mau tak mau, olimpiade ini, adalah kesempatan terbaiknya untuk mewujudkan mimpinya. Ini adalah hari pembuktiannya, untuk mendapatkan medali di nomor lari 400 meter. Karena ia dan ayahnya sudah berlatih sangat keras untuk ini.
Nama lelaki itu Derek Redmond, seorang atlet pelari olimpiade asal Inggris. Impian terbesarnya ialah mendapatkan sebuah medali olimpiade, -apapun medalinya-. Derek sebenarnya sudah ikut di ajang olimpiade sebelumnya, tahun 1988 di Korea. Namun sayang beberapa saat sebelum bertanding, ia cedera sehingga tak bisa ikut berlomba. Mau tak mau, olimpiade ini, adalah kesempatan terbaiknya untuk mewujudkan mimpinya. Ini adalah hari pembuktiannya, untuk mendapatkan medali di nomor lari 400 meter. Karena ia dan ayahnya sudah berlatih sangat keras untuk ini.

Suara pistol menanda dimulainya perlombaan. Latihan keras yang dijalani Derek Redmond, membuatnya segera unggul melampaui lawan-lawannya. Dengan cepat ia sudah memimpin hingga meter ke 225. Berarti kurang 175 meter lagi. Ya, kurang sebentar lagi ia kan mendapatkan medali yang diimpikannya selama ini.
Namun tak ada yang menyangka ketika justru di performa puncaknya, ketika ia sedang memimpin perlombaan tersembut, tiba-tiba ia didera cedera. Secara tiba-tiba di meter ke 225 tersebut, timbul rasa sakit luar biasa di kaki kanannya. Saking sakitnya, seolah kaki tersebut telah ditembak sebuah peluru. Dan seperti orang yang ditembak kakinya, Derek Redmond pun menjadi pincang. Yang ia lakukan hanya melompat-lompat kecil bertumpu pada kaki kirinya, melambat, lalu rebah di tanah. Sakit di kakinya telah menjatuhkannya.

Derek sadar, impiannya memperoleh medali di Olimpiade ini pupus sudah.
Melihat anaknya dalam masalah, Ayahnya yang berada di atas tribun, tanpa berpikir panjang ia segera berlari ke bawah tribun. Tak peduli ia menabrak dan menginjak sekian banyak orang. Baginya yang terpenting adalah ia harus segera menolong anaknya.

Di tanah, Derek Redmond menyadari bahwa impiannya memenangkan olimpiade pupus sudah. Ini sudah kedua kalinya ia berlomba lari di Olimpiade, dan semuanya gagal karena cidera kakinya. Namun jiwanya bukan jiwa yang mudah menyerah.  Ketika tim medis mendatanginya dengan membawa tandu, ia berkata, “Aku tak akan naik tandu itu, bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan perlombaan ini”, katanya.

Maka Derek pun dengan perlahan mengangkat kakinya sendiri. Dengan sangat perlahan pula, sambil menahan rasa sakit dikakinya, ia berjalan tertatih dengan sangat lambat. Tim medis mengira bahwa Derek ingin berjalan sendiri ke tepi lapangan, namun mereka salah. Derek ingin menuju ke garis finish.

Di saat yang sama pula Jim, Ayah Derek sudah sampai di tribun bawah. Ia segera melompati pagar lalu berlari melewati para penjaga menuju Anaknya yang berjalan menyelesaikan perlombaan dengan tertatih kesakitan. Kepada para penjaga ia hanya berkata, “Itu anakku, dan aku akan menolongnya!”

Akhirnya, kurang 120 meter dari garis finish, sang Ayah pun sampai juga di Derek yang menolak menyerah. Derek masih berjalan pincang tertatih dengan sangat yakin. Sang Ayah pun merangkul dan memapah Derek. Ia kalungkan lengan anaknya tersebut ke bahunya.

“Aku disini Nak”, katanya lembut sambil memeluk Anaknya, “dan kita akan menyelesaikan perlombaan ini bersama-sama.

Ayah dan anak tersebut, dengan saling berangkulan, akhirnya sampai di garis finish. Beberapa langkah dari garis finish, Sang Ayah, Jim, melepaskan rangkulannya dari anaknya agar Derek dapat melewati garis finish tersebut seorang diri. Lalu kemudian, barulah ia merangkul anaknya lagi.

Enam puluh lima ribu pasang mata menyaksikan mereka, menyemangati mereka, bersorak bertepuktangan, dan sebagian menangis. Scene Ayah dan anak itu kini seolah lebih penting daripada siapa pemenang lomba lari.

Derek Redmond tak mendapat medali, bahkan ia didiskualifikasi dari perlombaan. Namun lihatlah komentar Ayahnya.

“Aku adalah ayah yang paling bangga sedunia!, Aku lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas.”

Dua tahun paska perlombaan lari tersebut, dokter bedah mengatakan kepada Derek bahwa Derek tak akan lagi dapat mewakili negaranya dalam perlombaan olahraga.

Namun tahukah kalian apa yang terjadi?

Lagi-lagi, dengan dorongan dari  Ayahnya, Derek pun akhirnya mengalihkan perhatiannya. Dia pun menekuni dunia basket, dan akhirnya menjadi bagian dari timnas basket Inggris Raya. Dikiriminya foto dirinya bersama tim basket ke dokter yang dulu  memvonisnya takkan mewakili negara dalam perlombaan olahraga.

Jika kasih ibu, adalah melindungi kita dari kelamnya dunia, maka kasih sayang seorang Ayah adalah mendorong kita untuk menguasai dunia itu. Seorang Ayah akan senantiasa mendukung, memotivasi, men-support, dan membersamai kita dalam kondisi apapun. Ayah pulalah yang akan meneriakkan kita untuk bangkit, lalu memapah kita hingga ke garis finish. Karena mereka tak ingin kita menyerah pada keadaan, sebagaimana yang ia contohkan.

+++PLEASE SHARE AND LIKE+++

Sumber : http://www.kisahinspirasi.com/2013/01/ayah-kita.html
Posted by vaneskho | File under : , ,


Raut bahagia tampak terlihat pada wajah bocah asal Australia, Ted Johnson. Untuk pertama kalinya, anak laki-laki berusia 3 tahun ini, berjalan dengan menggunakan pergelangan palsu yang khusus dilengkapi dengan kaki.  Seperti dilansir dari laman Daily Mail, Ted lahir tanpa tulang kering atau tibia dan lutut. Kondisi langka ini disebut dengan tibial Hemimelia dan tidak terdeteksi saat Ted masih di dalam kandungan sang ibunda, Abbie.
Raut bahagia tampak terlihat pada wajah bocah asal Australia, Ted Johnson. Untuk pertama kalinya, anak laki-laki berusia 3 tahun ini, berjalan dengan menggunakan pergelangan palsu yang khusus dilengkapi dengan kaki.

Seperti dilansir dari laman Daily Mail, Ted lahir tanpa tulang kering atau tibia dan lutut. Kondisi langka ini disebut dengan tibial Hemimelia dan tidak terdeteksi saat Ted masih di dalam kandungan sang ibunda, Abbie.

Ketika Ted berusia satu tahun, Abbie dan suaminya, Peter dihadapkan pada keputusan berat. Keduanya harus merelakan kaki buah hati mereka diamputasi.

Usai amputasi tersebut, Ted pun memakai beberapa pergelangan kaki palsu. Namun baru sekarang lah, ia mendapatkan pergelangan palsu lengkap dengan kaki.

Pekan ini, Ted mencoba kaki palsu yang terbuat dari fiberglass berwarna biru untuk kali pertama di lapangan basket Royal Children's Hospital, Melbourne, Australia. Ia terlihat sangat bersemangat.

"Ia luar biasa, tak ada yang bisa menghentikannya," ujar Abbie.

"Pada mulanya kami pikir ia mungkin perlu bantuan untuk berkeliling. Oleh karena itu saya tak percaya ia bisa melakukannya sebaik ini. Besok, kami akan pergi membeli sepatu untuk pertama kalinya."

Prosthetist Jim Lavranos yang membuat kaki palsu untuk Ted mengatakan, biasanya anak-anak butuh 3-4 tahun untuk bergerak dan menyesuaikan diri dengan kaki palsunya. Namun, Ted justru bisa melakukannya lebih awal. "Ini karena ia begitu cepat dan percaya diri," kata Jim.

Tibial Hemimelia adalah kondisi dimana seseorang kehilangan sebagian atau seluruh tibia. Seperti diketahui manusia memiliki dua tulang panjang di kaki bagian bawah. Bagian tebal disebut dengan tibia sementara bagian tipis disebut fibula.

Pada orang yang mengalami tibial hemimelia, fibula tetap ada. Namun bagian tibianya tidak ada atau cacat. Kondisi ini juga disertai dengan deformitas kaki dan terdapat kemungkinan kaki memiliki jari-jari tambahan.

Kondisi lainnya yang ditemui pada penderita tibial hemimelia adalah lutut yang bengkok ke dalam. Sebagian besar kaki yang mengalami tibial hemimelia juga terlihat 'tidak biasa'.

+++PLEASE SHARE AND LIKE+++